Ramayana

Ramayana dari bahasa Sansekerta (रामायण) Rāmâyaṇa yang berasal dari kata Rāma dan Ayaṇa yang berarti “Perjalanan Rama”, adalah sebuah cerita epos dari India yang digubah oleh Walmiki (Valmiki) atau Balmiki. Cerita epos lainnya adalah Mahabharata. Continue reading

Posted in Ramayana | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Sinopsis Ramayana

Kisah Ramayana diawali dengan adanya seseorang bernama Rama, yaitu putra mahkota Prabu Dasarata di Kosala dengan ibukotanya Ayodya. Tiga saudara tirinya bernama Barata, Laksmana dan Satrukna. Rama lahir dari isteri pertama Dasarata bernama Kausala, Barata dari isteri keduanya bernama Kaikeyi serta Laksmana dan Satrukna dari isterinya ketiga bernama Sumitra. Mereka hidup rukun.

Sejak remaja, Rama dan Laksmana berguru kepada Wismamitra sehingga menjadi pemuda tangguh. Rama kemudian mengikuti sayembara di Matila ibukota negara Wideha. Berkat keberhasilannya menarik busur pusaka milik Prabu Janaka, ia dihadiahi putri sulungnya bernama Sinta, sedangkan Laksmana dinikahkan dengan Urmila, adik Sinta.

Setelah Dasarata tua, Rama yang direncanakan untuk menggantikannya menjadi raja, gagal setelah Kaikeyi mengingatkan janji Dasarata bahwa yang berhak atas tahta adalah Barata dan Rama harus dibuang selama 15 (lima belas) tahun. Atas dasar janji itulah dengan lapang dada Rama pergi mengembara ke hutan Dandaka, meskipun dihalangi ibunya maupun Barata sendiri. Kepergiannya itu diikuti oleh Sinta dan Laksmana.

Namun kepergian Rama membuat Dasarata sedih dan akhirnya meninggal. Untuk mengisi kekosongan singgasana, para petinggi kerajaan sepakat mengangkat Barata sebagai raja. Tapi ia menolak, karena menganggap bahwa takhta itu milik Rama, sang kakak. Untuk itu Barata disertai parajurit dan punggawanya, menjemput Rama di hutan. Saat ketemu kakaknya, Barata sambil menangis menuturkan perihal kematian Dasarata dan menyesalkan kehendak ibunya, untuk itu ia dan para punggawanya meminta agar Rama kembali ke Ayodya dan naik takhta. Tetapi Rama menolak serta tetap melaksanakan titah ayahandanya dan tidak menyalahkan sang ibu tiri, Kaikeyi, sekaligus membujuk Barata agar bersedia naik takhta. Setelah menerima sepatu dari Rama, Barata kembali ke kerajaan dan berjanji akan menjalankan pemerintahan sebagai wakil kakaknya.

Banyak cobaan yang dihadapi Rama dan Laksmana, dalam pengembaraannya di hutan. Mereka harus menghadapi para raksasa yang meresahkan masyarakat di sekitar hutan Kandaka itu. Musuh yang menjengkelkan adalah Surpanaka, raksesi yang menginginkan Rama dan Laksmana menjadi suaminya. Akibatnya, hidung dan telinga Surpanaka dibabat hingga putus oleh Laksmana. Dengan menahan sakit dan malu, Surpanaka mengadu kepada kakaknya, yaitu Rahwana yang menjadi raja raksasa di Alengka, sambil membujuk agar Rahwana merebut Sinta dari tangan Rama. Dengan bantuan Marica yang mengubah diri menjadi kijang keemasan, Sinta berhasil diculik Rahwana dan dibawa ke Alengka.

Burung Jatayu yang berusaha menghalangi, tewas oleh senjata Rahwana. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Jatayu masih sempat mengabarkan nasib Sinta kepada Rama dan Laksmana yang sedang mencarinya.Dalam mencari Sinta, Rama dan Laksamana berjumpa pembesar kera yang bernama Sugriwa dan Hanuman. Mereka mengikat persahabatan dalam suka dan duka. Dengan bantuan Rama, Sugriwa dapat bertahta kembali di Kiskenda setelah berhasil mengalahkan Subali yang lalim. Setelah itu, Hanuman diperintahkan untuk membantu Rama mencari Sinta. Dengan pasukan kera yang dipimpin Anggada, anak Subali, mereka pergi mencari Sinta.

Atas petunjuk Sempati, kakak Jatayu, mereka menuju ke pantai selatan. Untuk mencapai Alengka, Hanuman meloncat dari puncak gunung Mahendra. Setibanya di ibukota Alengka, Hanuman berhasil menemui Sinta dan mengabarkan bahwa Rama akan segera membebaskannya. Sekembalinya dari Alengka, Hanuman melapor kepada Rama. Strategi penyerbuan pun segera disusun. Atas saran Wibisana, adik Rahwana yang membelot ke pasukan Rama, dibuatlah jembatan menuju Alengka. Setelah jembatan jadi, berhamburanlah pasukan kera menyerbu Alengka. Akhirnya, Rahwana dan pasukannya hancur. Wibisana kemudian dinobatkan menjadi raja Alengka, menggantikan kakaknya yang mati dalam peperangan. [Yang menarik dan sampai saat ini sangat populer di Jawa, adalah adanya ajaran tentang bagaimana seharusnya seseorang memerintah sebuah kerajaan atau negara dari Rama kepada Wibisana, yang dikenal dengan sebutan ASTHABRATA.]

Setelah berhasil membebaskan Sinta, pergilah Rama dan Sinta serta Laksmana dan seluruh pasukan (termasuk pasukan kera) ke Ayodya. Setibanya di ibukota negera Kosala itu, mereka disambut dengan meriah oleh Barata, Satrukna, para ibu Suri, para punggawa dan para prajurit, serta seluruh rakyat Kosala. Dengan disaksikan oleh mereka, Rama kemudian dinobatkan menjadi raja

********
Ramayana sebenarnya diambil dari cerita yang konon terjadi di daratan India. Saat itu daratan India dikalahkan oleh India Lautan yang juga disebut tanah Srilangka atau Langka, yang dalam pewayangan disebut Alengka. Tokoh Rama adalah pahlawan negeri India daratan, yang kemudian berhasil menghimpun kekuatan rakyat yang dilukiskan sebagai pasukan kera pimpinan Prabu Sugriwa. Sedang tanah yang direbut penguasa Alengka dilukiskan sebagai Dewi Sinta (dalam bahasa Sanskerta berarti tanah). Dalam penjajahan oleh negeri lain, umumnya segala peraturan negara dan budaya suatu bangsa akan mudah berganti dan berubah tatanan, yang digambarkan berupa kesucian Sinta yang diragukan diragukan.

Maka setelah Sinta dibebaskan, ia lantas pati obong, yang artinya keadaan negeri India mulai dibenahi, dengan merubah peraturan dan melenyapkan kebudayaan si bekas penjajah yang sempat berkembang di India. Dalam khazanah kesastraan Ramayana Jawa Kuno, dalam versi kakawin (bersumber dari karya sastra India abad VI dan VII yang berjudul Ravanavadha/kematian Rahwana yang disusun oleh pujangga Bhatti dan karya sastranya ini sering disebut Bhattikavya) dan versi prosa (mungkin bersumber dari Epos Walmiki kitab terakhir yaitu Uttarakanda dari India).

***
Posted in Ramayana | 1 Comment

Ringkasan Cerita Ramayana

Ringkasan Cerita

Rama mematahkan busur Dewa Siwa saat sayembara memperebutkan Dewi Sita

Prabu Dasarata dari Ayodhya

Wiracarita Ramayana menceritakan kisah Sang Rama yang memerintah di Kerajaan Kosala, di sebelah utara Sungai Gangga, ibukotanya Ayodhya. Sebelumnya diawali dengan kisah Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: Kosalya, Kekayi, danSumitra. Dari Dewi Kosalya, lahirlah Sang Rama. Dari Dewi Kekayi, lahirlah Sang Bharata. Dari Dewi Sumitra, lahirlah putera kembar, bernama Lakshmana dan Satrugna. Keempat pangeran tersebut sangat gagah dan mahir bersenjata.

Pada suatu hari, Rsi Wiswamitra meminta bantuan Sang Rama untuk melindungi pertapaan di tengah hutan dari gangguan pararakshasa. Setelah berunding dengan Prabu Dasarata, Rsi Wiswamitra dan Sang Rama berangkat ke tengah hutan diiringi Sang Lakshmana. Selama perjalanannya, Sang Rama dan Lakshmana diberi ilmu kerohanian dari Rsi Wiswamitra. Mereka juga tak henti-hentinya membunuh para rakshasa yang mengganggu upacara para Rsi. Ketika mereka melewati Mithila, Sang Rama mengikuti sayembara yang diadakan Prabu Janaka. Ia berhasil memenangkan sayembara dan berhak meminang Dewi Sita, puteri Prabu Janaka. Dengan membawa Dewi Sita, Rama dan Lakshmana kembali pulang ke Ayodhya.

Prabu Dasarata yang sudah tua, ingin menyerahkan tahta kepada Rama. Atas permohonan Dewi Kekayi, Sang Prabu dengan berat hati menyerahkan tahta kepada Bharata sedangkan Rama harus meninggalkan kerajaan selama 14 tahun. Bharata menginginkan Rama sebagai penerus tahta, namun Rama menolak dan menginginkan hidup di hutan bersama istrinya dan Lakshmana. Akhirnya Bharata memerintah Kerajaan Kosala atas nama Sang Rama.

Rama hidup di hutan

Dalam masa pengasingannya di hutan, Rama dan Lakshmana bertemu dengan berbagai raksasa, termasuk Surpanaka. Karena Surpanaka bernafsu dengan Rama dan Lakshmana, hidungnya terluka oleh pedang Lakshmana. Surpanaka mengadu kepadaRawana bahwa ia dianiyaya. Rawana menjadi marah dan berniat membalas dendam. Ia menuju ke tempat Rama dan Lakshmana kemudian dengan tipu muslihat, ia menculikSinta, istri Sang Rama. Dalam usaha penculikannya, Jatayu berusaha menolong namun tidak berhasil sehingga ia gugur.

Rama yang mengetahui istrinya diculik mencari Rawana ke Kerajaan Alengka atas petunjuk Jatayu. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Sugriwa, Sang Raja Kiskindha. Atas bantuan Sang Rama, Sugriwa berhasil merebut kerajaan dari kekuasaan kakaknya, Subali. Untuk membalas jasa, Sugriwa bersekutu dengan Sang Rama untuk menggempur Alengka. Dengan dibantu Hanuman dan ribuan wanara, mereka menyeberangi lautan dan menggempur Alengka.

Rama menggempur Rawana

Rawana yang tahu kerajaannya diserbu, mengutus para sekutunya termasuk puteranya – Indrajit – untuk menggempur Rama. Nasihat Wibisana (adiknya) diabaikan dan ia malah diusir. Akhirnya Wibisana memihak Rama. Indrajit melepas senjata nagapasa dan memperoleh kemenangan, namun tidak lama. Ia gugur di tangan Lakshmana. Setelah sekutu dan para patihnya gugur satu persatu, Rawana tampil ke muka dan pertarungan berlangsung sengit. Dengan senjata panah Brahmāstra yang sakti, Rawana gugur sebagai ksatria.

Setelah Rawana gugur, tahta Kerajaan Alengka diserahkan kepada Wibisana. Sinta kembali ke pangkuan Rama setelah kesuciannya diuji. Rama, Sinta, dan Lakshmana pulang keAyodhya dengan selamat. Hanuman menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk mengabdi kepada Rama. Ketika sampai di Ayodhya, Bharata menyambut mereka dengan takzim dan menyerahkan tahta kepada Rama.

Posted in Ramayana | Leave a comment

Kisah Ramayana

Dikisahkan di sebuah negeri bernama Mantili ada seorang puteri nan cantik jelita bernama Dewi Shinta. Dia seorang puteri raja negeri Mantili yaitu Prabu Janaka. Suatu hari sang Prabu mengadakan sayembara untuk mendapatkan sang Pangeran bagi puteri tercintanya yaitu Shinta, dan akhirnya sayembara itu dimenangkan oleh Putera Mahkota Kerajaan Ayodya, yang bernama Raden Rama Wijaya. Namun dalam kisah ini ada juga seorang raja Alengkadiraja yaitu Prabu Rahwana, yang juga sedang kasmaran, namun bukan kepada Dewi Shinta tetapi dia ingin memperistri Dewi Widowati. Dari penglihatan Rahwana, Shinta dianggap sebagai titisan Dewi Widowati yang selama ini diimpikannya. Dalam sebuah perjalanan Rama dan Shinta dan disertai Lesmana adiknya, sedang melewati hutan belantara yang dinamakan hutan Dandaka, si raksasa Prabu Rahwana mengintai mereka bertiga, khususnya Shinta. Rahwana ingin menculik Shinta untuk dibawa ke istananya dan dijadikan istri, dengan siasatnya Rahwana mengubah seorang hambanya bernama Marica menjadi seekor kijang kencana. Dengan tujuan memancing Rama pergi memburu kijang ‘jadi-jadian’ itu, karena Dewi Shinta menginginkannya. Dan memang benar setelah melihat keelokan kijang tersebut, Shinta meminta Rama untuk menangkapnya. Karena permintaan sang istri tercinta maka Rama berusaha mengejar kijang seorang diri sedang Shinta dan Lesmana menunggui.

Dalam waktu sudah cukup lama ditinggal berburu, Shinta mulai mencemaskan Rama, maka meminta Lesmana untuk mencarinya. Sebelum meninggalkan Shinta seorang diri Lesmana tidak lupa membuat perlindungan guna menjaga keselamatan Shinta yaitu dengan membuat lingkaran magis. Dengan lingkaran ini Shinta tidak boleh mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjamin keselamatannya, jadi Shinta hanya boleh bergerak-gerak sebatas lingkaran tersebut. Setelah kepergian Lesmana, Rahwana mulai beraksi untuk menculik, namun usahanya gagal karena ada lingkaran magis tersebut. Rahwana mulai cari siasat lagi, caranya ia menyamar yaitu dengan mengubah diri menjadi seorang brahmana tua dan bertujuan mengambil hati Shinta untuk memberi sedekah. Ternyata siasatnya berhasil membuat Shinta mengulurkan tangannya untuk memberi sedekah, secara tidak sadar Shinta telah melanggar ketentuan lingkaran magis yaitu tidak diijinkan mengeluarkan anggota tubuh sedikitpun! Saat itu juga Rahwana tanpa ingin kehilangan kesempatan ia menangkap tangan dan menarik Shinta keluar dari lingkaran. Selanjutnya oleh Rahwana, Shinta dibawa pulang ke istananya di Alengka. Saat dalam perjalanan pulang itu terjadi pertempuran dengan seekor burung Garuda yang bernama Jatayu yang hendak menolong Dewi Shinta. Jatayu dapat mengenali Shinta sebagai puteri dari Janaka yang merupakan teman baiknya, namun dalam pertempuan itu Jatayu dapat dikalahkan Rahwana.

Disaat yang sama Rama terus memburu kijang kencana dan akhirnya Rama berhasil memanahnya, namun kijang itu berubah kembali menjadi raksasa. Dalam wujud sebenarnya Marica mengadakan perlawanan pada Rama sehingga terjadilah pertempuran antar keduanya, dan pada akhirnya Rama berhasil memanah si raksasa. Pada saat yang bersamaan Lesmana berhasil menemukan Rama dan mereka berdua kembali ke tempat semula dimana Shinta ditinggal sendirian, namun sesampainya Shinta tidak ditemukan. Selanjutnya mereka berdua berusaha mencarinya dan bertemu Jatayu yang luka parah, Rama mencurigai Jatayu yang menculik dan dengan penuh emosi ia hendak membunuhnya tapi berhasil dicegah oleh Lesmana. Dari keterangan Jatayu mereka mengetahui bahwa yang menculik Shinta adalah Rahwana! Setelah menceritakan semuanya akhirnya si burung garuda ini meninggal.

Mereka berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan ke istana Rahwana dan ditengah jalan mereka bertemu dengan seekor kera putih bernama Hanuman yang sedang mencari para satria guna mengalahkan Subali. Subali adalah kakak dari Sugriwa paman dari Hanuman, Sang kakak merebut kekasih adiknya yaitu Dewi Tara. Singkat cerita Rama bersedia membantu mengalahkan Subali, dan akhirnya usaha itu berhasil dengan kembalinya Dewi Tara menjadi istri Sugriwa. Pada kesempatan itu pula Rama menceritakan perjalanannya akan dilanjutkan bersama Lesmana untuk mencari Dewi Shinta sang istri yang diculik Rahwana di istana Alengka. Karena merasa berutang budi pada Rama maka Sugriwa menawarkan bantuannya dalam menemukan kembali Shinta, yaitu dimulai dengan mengutus Hanuman persi ke istana Alengka mencari tahu Rahwana menyembunyikan Shinta dan mengetahui kekuatan pasukan Rahwana.

Taman Argasoka adalah taman kerajaan Alengka tempat dimana Shinta menghabiskan hari-hari penantiannya dijemput kembali oleh sang suami. Dalam Argasoka Shinta ditemani oleh Trijata kemenakan Rahwana, selain itu juga berusaha membujuk Shinta untuk bersedia menjadi istri Rahwana. Karena sudah beberapa kali Rahwana meminta dan ‘memaksa’ Shinta menjadi istrinya tetapi ditolak, sampai-sampai Rahwana habis kesabarannya yaitu ingin membunuh Shinta namun dapat dicegah oleh Trijata. Di dalam kesedihan Shinta di taman Argasoka ia mendengar sebuah lantunan lagu oleh seekor kera putih yaitu Hanuman yang sedang mengintainya. Setelah kehadirannya diketahui Shinta, segera Hanuman menghadap untuk menyampaikan maksud kehadirannya sebagai utusan Rama. Setelah selesai menyampaikan maskudnya Hanuman segera ingin mengetahui kekuatan kerajaan Alengka. Caranya dengan membuat keonaran yaitu merusak keindahan taman, dan akhirnya Hanuman tertangkap oleh Indrajid putera Rahwana dan kemudian dibawa ke Rahwana. Karena marahnya Hanuman akan dibunuh tetapi dicegah oleh Kumbakarna adiknya, karena dianggap menentang, maka Kumbakarna diusir dari kerjaan Alengka. Tapi akhirnya Hanuman tetap dijatuhi hukuman yaitu dengan dibakar hidup-hidup, tetapi bukannya mati tetapi Hanuman membakar kerajaan Alengka dan berhasil meloloskan diri. Sekembalinya dari Alengka, Hanuman menceritakan semua kejadian dan kondisi Alengka kepada Rama. Setelah adanya laporan itu, maka Rama memutuskan untuk berangkat menyerang kerajaan Alengka dan diikuti pula pasukan kera pimpinan Hanuman.

Setibanya di istana Rahwana terjadi peperangan, dimana awalnya pihak Alengka dipimpin oleh Indrajid. Dalam pertempuran ini Indrajid dapat dikalahkan dengan gugurnya Indrajit. Alengka terdesak oleh bala tentara Rama, maka Kumbakarna raksasa yang bijaksana diminta oleh Rahwana menjadi senopati perang. Kumbakarna menyanggupi tetapi bukannya untuk membela kakaknya yang angkara murka, namun demi untuk membela bangsa dan negara Alengkadiraja.Dalam pertempuran ini pula Kumbakarna dapat dikalahkan dan gugur sebagai pahlawan bangsanya. Dengan gugurnya sang adik, akhirnya Rahwana menghadapi sendiri Rama. Pad akhir pertempuran ini Rahwana juga dapat dikalahkan seluruh pasukan pimpinan Rama. Rahmana mati kena panah pusaka Rama dan dihimpit gunung Sumawana yang dibawa Hanuman.

Setelah semua pertempuran yang dasyat itu dengan kekalahan dipihak Alengka maka Rama dengan bebas dapat memasuki istana dan mencari sang istri tercinta. Dengan diantar oleh Hanuman menuju ke taman Argasoka menemui Shinta, akan tetapi Rama menolak karena menganggap Shinta telah ternoda selama Shinta berada di kerajaan Alengka. Maka Rama meminta bukti kesuciannya, yaitu dengan melakukan bakar diri. Karena kebenaran kesucian Shinta dan pertolongan Dewa Api, Shinta selamat dari api. Dengan demikian terbuktilah bahwa Shinta masih suci dan akhirnya Rama menerima kembali Shinta dengan perasaan haru dan bahagia. Dan akhir dari kisah ini mereka kembali ke istananya masing-masing.

Akhir yang tragis

Entah bagaimana perasaan Sinta ketika ia masuk dalam api unggun besar yang siap menghancurkan dirinya. Ia lolos dari maut karena api tak mau memakan dirinya. Namun, bagi para penjunjung cinta, tentunya hal ini sudah mencederai cinta suci yang ada di antara mereka. Cinta Rama tidaklah setulus cinta Sinta.

Jika kemudian ketidaktulusan itu berujung pada dibuangnya Sinta ke hutan, sendirian, dalam keadaan hamil, tentulah hal ini juga menunjukkan bahwa cinta Rama kepada Sinta tidaklah sekuat yang dibayangkan orang, seperti tergambar dalam cerita-cerita selama ini. Rama memang mencintai Sinta, namun ternyata cintanya tak cukup besar untuk percaya pada istrinya. Harusnya, jika pun Sinta memang ternoda, sebagai seorang yang sangat mencintai istrinya, Rama tetap menerima Sinta apa adanya, bukan?

Dan endingnya? , Setelah Sinta dibuang saat hamil di hutan, ia pun kemudian melahirkan dua anak kembar yang kemudian menantang bapaknya karena telah menelantarkan ibu mereka. Ketika sang bapak malah hendak membunuh anaknya, Sinta pun memilih untuk ditelan bumi karena tak kuasa melihat pertumpahan darah antara Rama dan anaknya. Selesai dan penuh deraian air mata.

Versi

Cerita Ramayana
Di tinjau dari segi kepercayaan, cerita Ramayana merupakan suatu pendidikan rohani yang mengandung falsafah yang sangat dalam artinya. Walau cerita ini fiktif, Ramayana merupakan cerita mitos kuna yang bersumber pada pendidikan. Cerita Ramayanan sesuai dengan cerita kehidupan manusia dalam mencari kebenaran dan hidup yang sempurna.
Cerita Ramayana menyinggung pula kebaikan dan kesetiaan Dewi Sri kepada suaminya yaitu Sri Rama, karena Sri Rama adalah titisan Dewa Wisnu, sedangkan Dewi Sri adalah istri Dewa Wisnu yang digambarkan sebagai bumi manusia. Dari segi sosial masyarakat membuktikan bahwa Rama dan Dewi Sri adalah merupakan tokoh-tokoh sosiawan dan dermawan yang mencintai sesamanya.
Kitab Ramayana merupakan hasil sastra India yang indah dan berani. Menurut perkiraan, di India ada lebih dari 100 juta orang yang pernah membaca kitab Ramayana, artinya bahwa penggemar cerita Ramayana melebihi pembaca Weda Menurut para budayawan, kitab Ramayana digubah oleh seorang Empu agung, yaitu Empu Walmiki. Kitab ini terbagi-bagi menjadi 7 bagian atau 7 kandha. Bagian-bagian tersebut yaitu Bala Kandha, Ayodya Kandha, Aranyaka kandha, Kiskindha kandha, Sundara Kandha, Yudha Kandha, Utara Kandha.Pada kandha yang pertama yaitu Bala Kandha, dikisahkan tentang Rama dan saudara-saudaranya ketika masih kecil.
Diceritakan, di negeri Kosala dengan ibukotanya Ayodya dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Dasarata. Ia mempunyai 3 istri yaitu Dewi Kausalya (Sukasalya) yang berputra Rama sebagai, Kekayi yang melahirkan Barata, dan Dewi Sumitra yang berputra Lasmana dan Satrugna (Satrugena). Dalam sayembara (swayamwara) di Wideha (Manthili) Rama berhasil memboyong Sinta putra Janaka. Sinta kemudian menikah dengan Rama. Bagian ke dua disebut Ayodya Kandha mengisahkan Raja Dasarata sudah tua. Maka Sang Prabu menghendaki turun tahta dan Rama diserahi untuk menggantikannya sebagai raja di negeri Ayodya. Tanpa berpikir panjang tentu saja Rama sebagai anak sulung menyanggupkan diri. Raja Dasarata memerintahkan agar negeri dihias dengan sebaik-baiknya untuk peresmian penobatan raja bagi Sri Rama yang baru saja menikah.
Tetapi alangkah kagetnya sang Raja Dasarata bahwa di malam hari menjelang penobatan Rama, dewi Kekayi mengingatkan pada Dasarata akan janji yang telah diucapkan tentang anaknya si Barata agar bisa naik tahta. Dan selanjutnya agar Barata tenang memerintah Ayodya, Dewi Kekayi memerintahkan kepada Rama dan Sinta agar meninggalkan Ayodya dan hidup di hutan Kanyaka atau Dhandaka selama 14 tahun.
Tentu saja sang Prabu Dasarata sedih sekali dan tidak kuasa menolak janji yang telah diucapkan kepada Kekayi. Hampir-hampir sang Dasarata lari akan bunuh diri. Namun Sri Rama tahu akan gelagat itu, dengan rela hati bersama Sinta untuk melepaskan haknya dan pergi ke hutan selama 14 tahun. Tidak mau ketinggalan Raden Lasmana ikut dalam pengungsian ke hutan.
Sejak itulah Sang Dasarata meninggal. Barata diangkat sebagai raja. Sesaat menduduki singgasana ia kemudian jatuh. Selanjutnya Barata tidak mau naik tahta malahan lari mencari Rama di hutan untuk menyerahkan kembali pemerintahan kepada kakaknya, tetapi Sri Rama harus menggenapkan14 tahun di hutan. Untuk itu terompah Sri Rama dibawa kembali ke Ayodya sebagai ganti Sri Rama, maka raja terompah memerintah Ayodya.
Aranya kandha adalah bagian yang ketiga mengisahkan tentang Batara Wisnu yang menitis ke Rama. Rama memang titisan Batara Wisnu yang ke sembilan kalinya. Penitisan ini menjadikan karakter Rama benar-benar bertindak ingin meluruskan perilaku umat yang jahat dengan cara kesabaran dan kebenaran. Rama dalam pengasingan di hutan sudah berkali-kali membantu para rohaniawan yang diganggu oleh raksasa.
Bagian ke empat disebut Kiskindha kandha yang menceritakan perjalanan Rama hingga sampai ke negara Kiskindha. Sebelumnya Sri Rama telah bertemu dengan burung Garuda Jatayu yang sudah sekarat dan maut hampir menjemputnya. Peristiwa tersebut terjadi karena burung Jatayu bertempur guna merebut Sinta dari tangan Rahwana Setelah burung Jatayu menyampaikan semua yang dialaminya akhirnya mati kemudian Rama dan Lasmana melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan Rama bertemu dengan Sugriwa sang raja kera yang terjepit pada dua cabang asam yang berhimpitan dan tak akan bisa lepas tanpa pertolongan orang lain. Himpitan cabang itu dipanah (jemparing) oleh Sri Rama dan lapaslah Sugriwa dari jepitan cabang pohon. Kemudian berkatalah kepada Sri Rama, bahwa dirinya adalah Sugriwa si raja kera dari Kiskindha. Sugriwa akhirnya minta tolong kepada Sri Rama agar sudi membantu melawan kakaknya yang bernama Subali.
Bersekutulah Sugriwa dengan Rama dan saling berjanji akan tolong-menolong di dalam segala kerepotannya. Akhirnya matilah Subali dalam peperangan melawan Sugriwa yang dibantu Sri Rama. Setelah meraih kemenangan bertahtalah Sugriwa di kerajaan Kiskindha. Selanjutnya Sugriwa memerintahkan prajurit kera berangkat ke Alengka. Setelah sampai di pantai, maka para kera bingung karena tidak mampu menyeberangi laut.
Sundara Kandha adalah bagian yang ke lima mengisahkan perjalanan sang Hanuman yang menjadi utusan Sri Rama. Hanuman, kera putih (wanara seta) kepercayaan Rama, si anak dewa Angin menuju ke negara Alengka dengan cara mendaki gunung Mahendra, kemudian meloncati menyeberang samodra dan tibalah di Alengka. Seluruh kota dijelajahinya hingga masuk di istana dan bertemu dengan Sinta. Setelah saling mengabarkan kususnya Sri Rama yang suatu saat akan menjemputnya ke Alengka.
Saat itu Hanuman diketahui oleh Indrajid, Hanuman ditangkap lalu diikat dan kemudian dibakar. Dengan ekornya yang menyala itu mengakibatkan seluruh kota itu terbakar, kemudian kembalilah Hanuman ke Ayodya melaporkan peristiwa itu ke hadapan Sri Rama.
Bagian ke enam yaitu Yudha Kandha menceritakan tentang Wibisana yang diusir Rahwana dan akhirnya Wibisana bergabung dengan sang Rama. Sebelumnya Wibisana memberikan petunjuk agar kakaknya yaitu Sang Rahwana mau mengembalikan Sinta kehadapan Rama, namun petunjuk tersebut membuat Rahwana marah.
Wibisana disuruh pergi dari Alengka. Ia pergi bergabung dengan Sri Rama. Hal ini mengakibatkan Indrajid mati, Kumbakarna beserta prajurit dan para senapati gugur dalam perang berebut Sinta. Rahwana yang sakti itu mengamuk, peperanganpun berlanjut dan banyak pula prajurit kera yang mati. Hampir saja Rama kewalahan karena kesaktian Rahwana, akhirnya Rahwanapun mati.
Selesailah peperangan antara Sri Rama melawan Rahwana. Wibisana diangkat oleh Rama menjadi raja Alengka. Di hati Rama ternyata ada keraguan tentang kesucian Sinta. Untuk membuktikan, maka ia menyuruh membuat api unggun. Masuklah Sinta ke dalam api itu. Ternyata tidak mati, justru dewa Agnilah menyerahkan Sinta untuk Rama sebab Sinta memang masih suci. Kini Sinta bersama Rama pulang ke Ayodya, diiringi oleh tentara kera. Mereka disambut oleh Barata, yang segera menyerahkan tahta kerajaan kepada Sri Rama.
Bagian ke tujuh disebut Utara Kandha. Dua pertiga dari buku Utara kandha ini berisi tentang cerita yang tidak ada kaitannya dengan riwayat Sri Rama. Dalam kitab ini disebut-sebut tentang nama raja Dharmawangsa Teguh.
Kitab Ramayana ini berisi bermacam-macam cerita, misalnya terjadinya raksasa-raksasa nenek moyang sang Rahwana atau Dasamuka. Terjadinya Dasamuka dan sikapnya yang kurang sopan terhadap para dewa dan para pendeta.
Di kisahkan pula mengenai Sri Harjuna Sasrabahu yang mengamuk kepada Dasamuka, disiksa ditarik dengan kereta kencana, diikatkan badannya dengan roda kereta sampai kesakitan. Siksaan terhadap Dasamuka ini terpaksa dilakukan oleh Sri Harjuna sebab patihnya yang bernama patih Suwanda (Sumantri) mati dibunuh olehnya, namun Dasamuka ditolong oleh Pandya Batari Durga.
Isi pokok dari bagian ke 7 ini sebenarnya berupa lanjutan dari riwayat Rama Sinta, tetapi ada perbedaan dengan bagian akhir kitab yang ke 6. Menurut para ahli sastra bagian ke 7 ini memang berupa kandha gubahan baru.
Diceritakan setelah Sinta diboyong ke Utara (Ayodya), maka Sang Batara Rama mendengar desas-desus rakyat bahwa kehadirannya sangat disangsikan akan kesuciaannya. Demi memperlihatkan kesempurnaannya, maka Sinta yang pada saat itu dalam keadaan hamil diusir dari Ayodya oleh Rama.
Pergilah Sinta dengan tiada tujuan tertentu dengan mengenakan pakaian orang sudra papa dan sampailah di pertapaan Empu Walmiki. Usia kehamilan Sinta semakin besar, maka setelah tiba waktunya lahirlah dua anak yang ternyata lahir kembar, diberi nama Kusa dan Lawa.
Keduanya diasuh dan dibesarkan oleh Empu Walmiki dan dididik membaca kakawin. Sang Walmiki juga menulis cerita riwayat Rama dalam kakawin. Suatu saat ketika sang Rama mengadakan aswameda yaitu korban pembebasan kuda, Kusa dan Lawa diajak hadir oleh sang Walmiki. Kedua anak muda inilah yang membawa kakawin gubahan sang Empu.
Setelah pembacaan Kakawin dengan riwayat Sang Rama, barulah tahu bahwa Kusa dan Lawa adalah anaknya sendiri. Maka segera Walmiki diminta untuk mengantar Sinta kembali ke istana. Setiba di istana Sinta bersumpah “janganlah kiranya raganya tidak diterima oleh bumi seandainya tidak suci.” Seketika itu juga bumi terbelah menjadi dua dan muncullah Dewi Pretiwi yang duduk di atas singgasana emas yang didukung oleh ular-ular naga. Sinta dipeluknya dan dibawanya lenyap masuk ke dalam belahan bumi.
Tentu saja Sri Rama sangat menyesal atas semua itu. Perasaan Rama sangat haru melihat sang Dewi Pretiwi yang berkenan untuk muncul menjemput Sinta. Peristiwa tersebut telah membuat Rama mengerti akan kesetiaan Sinta kepadanya. Itulah penyesalan Rama, yang kemudian dinyatakan pada semedinya di pantai samudra dan lepaslah penitisan Wisnu kembali ke Sorgaloka untuk bertemu dengan sang istri yaitu Dewi Pretiwi.
Posted in Ramayana | Leave a comment

Asmarandana

Pupuh II – Asmarandana : Serat Bathara Rama

12468755-ramayana-paintings-on-the-wall-wat-nangphaya-phit-sa-nu-lok-thailand

Kisah yang sangat berbeda dari “Ramayana” , tentang Anoman/Hanuman …….

-Tinjauan Serat Bathara Rama (Cirebon) – oleh Sumarsih

Derpartemen Pendidikan dan Kebudayaan , Direktorat Jendral Kebudayaan
Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) 1985

Pupuh II. Asmarandana 39 bait
Laksmana lalu minta diri. Setalah sampai dihadapan Sri rama, Laksmana lalu menyampaikan semaua kata-kataresi Mahardidewa dan Candradewa.
Sri Rama mendengar kata-kata kedua resi itu sangat gembira lalu mencari hutan Trengganasari.
Sesampainya di hutan Trenggana sari Sri Rama merasa haus, karena di sekitar hutan Trenggana sari tidak ada air, maka disuruhnya Laksmana mencari air.

Sepeninggal Laksmana, Sita Dewi sepert mendengar suara orang mengeluh kesakitan. Sita Dewi menyangka itu suara Laksmana, maka ia mengajak Sri Rama mencari Laksmana.
Diceritakan Laksmana bertemu dengan raksasa bernama Raktani. Raktani lalu dibunuhnya dengan panah dan bangkainya berubah menjadi seekor burung Jambawati. Burung Jambawati menyerang Laksmana sambil menyambar-nyambar, lalu dipanah Laksmana hingga mati. Setelah Jambawati mati, Laksmana meneruskan perjalanan untuk mencari air.

Sampailah Laksmana di tempat telaga Tan Mala dan telaga Sumala. Laksmana ingat pesan resi Mahadiwa dan Candrasewa, dihampirinya telaga yang keruh airnya. Laksmana mengambil tiga ruas pohon bambu untuk membawa air . Setelah didapatkan lalu kembali menghadap Sri Rama.

Diceritakan Sri Rama dan Sita Dewi sangat kehausan, lalu mencaei telaga yang bening airnya, sampailah Sri Rama dan Sita Dewi di telaga Sumala. Karena hausnya, tanpa pikir lagi Sri Rama lalu terjun ke dalam telaga Sumala diikuti oleh Sita Dewi.
Pada saat itu Laksmana belum jauh meninggalkan telaga Tan Mala. Waktu mendengar suara benda terjun ke air. Laksmana lalu mendekati telaga Sumala.
Laksmana sangat terkejut bahwa yang terjun ke telaga Sumala itu tak lain Sri Rama dan Sita Dewi. Laksmana hendak melarangnya, tetapi Sri Rama dan Sita Dewi telah terlanjur terjun ke air.
hanuman-recites-the-ramayana-1
Telah menjadi kehendak dewa, seketika wujud Sri Rama dan Sita Dewi berubah menjadi kera, dan kelakuannya tak ubahnya seperti binatang. Sri Rama dan Sita Dewi melakukan hubungan kelamin tanpa rasa malu dilihat oleh Laksmana.
Melihat kejadian itu Laksmana segera melepas ikat pinggangnya untuk dibuat jerat. Segera dijeratnya kaki Sri Rama dan dibantingnya Sri Rama ke telaga yang keruh, demikian juga Sita Dewi.
Seketika itu juga Sri Rama dan Sita Dewi berubah ujud kembali menjadi manusia. Sri Rama berterimakasih kepada Laksmana yang telah menolongnya membebaskan diri dari wujud binatang.
Laksmana berkata kepada Sri Rama, akibat perbuatannya berhubungankelamin dengan Sita Dewi sewaktu menjadi kera, akan membuahkan anak dengan wujud bukan manusia melainkan berwujud kera. Mendengar kata Laksmana, Sri Rama dan Sita Dewi menjadi sedih, kemudian mereka kembali ke perkemahannya.

Sesampainya di tempat perkemahan, Sri Rama menyuruh inang pengasuhnya supaya memijit Sita Dewi. Setelah dipijit, keluarlah sebuah manikam dari lejer Sita Dewi. Manik itu lalu diambil Sri Rama dan dibungkus dengan daun kamumu.
Sri Rama lalu memanggil Sang Hyang Bayu, bungkusan itu yang berisi manikam itu lalu diberikan kepada Sang Hyang Bayu, sebelumnya bungkusan itu dioberi tanda anting-anting, bahwa barang siapa yang memakai tanda anting-anting milik Sri Rama itu, adalah anak Sri Rama sendiri.
Sang Hyang Bayu lalu minta diri sambil membawa bungkusan itu untuk mencari siapa orangnya yang pantas menjadi ibu manikam tersebut.

Diceritakan juga, konon, Sang Hyang Bayu itu, mempunyai lima orang anak angkat; yang berwujud kera bernama Hanuman, yang berwujud manusia bernama Bima, yang berwujud gajah bernama Satubanda, yang berwujud gunung bernama gunung Parasu dan yang kelima bernama Bayutanaya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Parwo Dandoko

 I. Parwo Dandoko

 Ramayana (Sri Lanka Version)

I. Parwo Dandoko
1Sesaji Aswomedo
2Supoto Sharwono
3Bebendu di Ayudyo
4Sayembara Manthili
5Romogate
6Romo tundung
7Sinto Mutung
8Lesmono Mungkur
9Sinto Purik

Episode 1 :
Sesaji Aswomedo

Tidak biasanya beliau tinggal di paseban sendirian. Biasanya sang Prabu jengkar mendahului semua pejabat kerajaan. Kini Rekyono Patih, menteri2, nayoko2 projo, dan semua orang sudah meninggalkan balairung. Prabu Dosoroto terhenyak disinggasananya memandang lantai paseban yang gilar2 membentang luas. Matanya menerawang kedepan, melihat alun2 dengan sepasang pohon wringin kurungnya.

Prabu Dosoroto dan Permaisuri Dewi Susalyo atau Dewi Raghu menikah cukup lama tetapi belum juga punya keturunan. Hal ini merisaukan hatinya. Keturunan bukan hanya masalah pribadi tetapi sudah menjadi masalah negara karena pada waktu itu pewaris kerajaan adalah putra Raja. Apalagi Prabu Dosoroto adalah raja kawentar dari negara besar Ayudyo yang kaya raya, subur makmur gemah ripah loh jinawi. Toto titi tentrem dan kertoraharjo. Karena waktu itu belum ada bayi tabung, satu2nya jalan adalah dengan menikah lagi. Raja Ayudyo tidak tanggung2 menikahi 2 garwo ampéan yaitu Dewi Kekayi dan Dewi Sumitro. Namun setelah sekian lama menikah, ketiga istri2 itu tetap juga tidak juga kunjung hamil.

Atas saran seorang pendhito, sang Raja mengadakan sesaji Aswomedo. Semua istri2nya melakukan upacara ritual menari nari seolah melakukan hubungan badan dengan bangkai kuda. Tidak jelas mengapa bukan dengan kuda hidup. Juga tidak jelas mengapa dengan kuda. Mengapa bukan dengan ayam misalnya. Bukankah ayam lebih digdoyo ? Tanpa jago bisa beretelur dan punya anak. Karena kuda terkenal ‘jantan’ dengan ukurannya yang ‘king size’ ? Entahlah. Upacara seperti ini bukan aneh dijaman itu. Di Jepang ada upacara semacam itu. Wanita yang mandul melakukan upacara ritual dengan jalan menggosok gosokkan yoninya ke sebuah patung lingga yang dikeramatkan. Apalagi kalau digosokkan punya kita, wuah …

Versi lain mengatakan bahwa Raja Ayudyolah yang mungkin mandul. Ini masalah serius karena Prabu Dosoroto tidak punya saudara kandung. Siapa nanti yang akan meneruskan tahta Ayudyo ? Versi ini menyatakan bahwa Prabu Dosoroto datang ke sebuah asrama resi2 untuk mendapatkan ‘suwuk’. Suwuk disini bukan sebatas kata2, jompa jampi dan doa2 tetapi sang raja meminta ketiga garwo2nya dibuahi begawan2 di pertapaan itu. Tentunya pembuahaan dilakukan dengan cara alamiah karena waktu itu belum ada bank sperma dan inseminasi. Tidak jelas juga apakan hanya satu pendito yang membuahi ketiga istri2 itu, atau satu pendeta untuk satu istri, atau malah rame2 – jambore.

Apa yang dilakukan Prabu Dosoroto tidak jarang terjadi dimasa itu. Dalam kisah Mahabarata, pewaris Astino meninggal sebelum sempat punya keturunan. Supaya punya keturunan, dipanggilah begawan Abiyoso atau wiku Kresnodwipoyono dari pertapan Saptorenggo untuk membuahi menantu2 Hastinopuro. Karena sang begawan tampangnya sangat buruk, ada menantu itu yang memejamkan matanya ketika dibuahi sang pendeta. Akibatnya anak yang lahir, raden Destoroto buta. Menantu kedua kaget sampai pias dan memalingkan mukanya sehingga anaknya yang bernama Radèn Pandu berwajah pucat dan lehernya tèngèng. Menantu ketiga takut2 dan berjalan berjingkat jingkat. Kelak anaknya yang bernama Yomo Widuro berjalan pincang. Ada yang tanya, kalo pas dikeloni bopo begawan ia bersin2 bagaimana ? Ya, anaknya wohang wahing, to ? Kalau sedang glègèk-en coca cola ? Mbuh … !

Entahlah, mana dari versi2 tersebut yang benar tidaklah jelas. Yang jelas ketiga garwo raja hamil dan melahirkan hampir bersamaan. Yang pertama melahirkan adalah Dewi Kekayi dan anaknya diberi nama raden Bharoto. Berikutnya, permaisuri Dewi Susalyo melahirkan raden Romowijoyo. Dewi Sumitro melahirkan raden Lesmono. Beberapa bulan berselang Dewi Kekayi melahirkan lagi seorang putra bernama raden Satrugeno. Betapa bahagianya sang Prabu memiliki empat putra sekaligus.

Keempat putra tersebut dididik dikraton. Segala olah Joyo kawijayan, kesaktian, ilmu tata negara, militer, hukum, dll. Sejak kecil raden Romowijoyo telah menunjukkan bakatnya yang ruarbiasa. Tidak ada seorangpun yang meragukan bahwa beliaulah putra mahkota kerajaan Ayudyo. Prabu Dosoroto sangat berbahagia dengan putra2nya. Ia sangat bangga dan sangat sayang kepada putra sulungnya raden Romowijoyo yang diagul agulkannya menjadi penggantinya kelak jika telah dewasa.

Gambar : Prabu Dosoroto berdampingan dengan permaisuri Dewi Raghu berhadapan dengan Dewi Sumitro dan Dewi Kekayi dibelakangnya.

Episode 2 :
Supoto Sharwono

Walaupun berbeda ibu, sejak kecil Lesmono sangat dekat dengan Romo. Bharoto kompak dengan adik kandungnya Satrugeno. Pengasuh Bharoto dan Satrugeno adalah emban Mantoro. Hubungan emban ini dengan Dewi Kekayi sangat dekat. Walaupun kedudukannya hanya emban, pengaruhnya sangat besar. Emban Mantoro adalah emban yang ambisius. Cita2nya tinggi. Ia menginginkan kedudukan yang lebih tinggi. Ia kemaruk harta dan kuasa.

Adalah lumrah dalam kehidupan poligami, selain hubungan saling menyukai diantara istri2, sering terjadi kecemburuan, iri dan rivalitas diantara mereka. Dewi Kekayi memendam rasa iri ini. Iri kepada Dewi Susalyo yang menjadi permaisuri, iri karena anaknya tidak sehebat anak marunya. Terkadang terlintas dalam benaknya betapa bombong hatinya seandainya putranya jadi raja. Namun ia tidak bisa berbuat apapun. Romo terlalu sulit untuk ditandingi.

Pada suatu hari, sang Prabu menghibur diri dengan berburu sendirian. Biasanya belum tengah hari beliau telah mendapatkan buruan tetapi kali ini sudah lewat tengah hari tak seekorpun buruan nampak. Sang raja kelelahan dan mulai merasa kesal. Ketika sedang beristirahat, tiba2 diseberang danau tampak rumput2 dan ilalang ber-gerak2 menandakan adanya makhluk yang sedang disitu. Jaraknya cukup jauh dan sang Prabu tidak ingin kehilangan buruan. Jika didekati, harus memutar. Beliau takut buruan lari. Dengan mengerahkan kecakapannya dalam membidik, untung2an sang Prabu membidik dan srettt panah melesat dari busurnya.

Alangkah kagetnya ketika terdengar jeritan manusia. Ter-gopoh2 beliau mendekati semak2 tsb. Betapa terkejutnya Prabu Dosoroto mendapati seorang anak muda terkapar terkena anak panahnya. Melihat pakaian Prabu Dosoroto, anak muda itu tahu bhw ia sedang berhadapan dengan raja. Dengan ter-engah2 anak muda itu berkata

“ … mengapa baginda memanah saya … ? ”
“ aku … tidak sengaja, anak muda … “ Prabu Dosoroto mencoba menyelamatkan nyawa anak itu dengan menaburkan obat2an yang dibawanya.
“ … saya mohon bantuan … “
“ katakan apa yang bisa kulakukan. Siapa kamu ? ”
“ saya anak Sharwono … kedua orang tua saya buta … mereka sedang menantikan kedatangan saya membawa beras … “ Sharwono mulai sesak nafasnya.
“ mohon bawakan beras ini ke … “ Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, nyawanya keburu meregang. Dengan masgul Prabu Dosoroto memanggul jasadnya mencari cari rumah orang tuanya.

Begawan Sharwono adalah pendito yang gentur tapanya sehingga beliau menjadi resi yang sakti mondroguno. Istri Resi Sharwono juga buta sehingga kedua orang tua itu sangat tergantung hidupnya pada putra tunggalnya. Prabu Dosoroto tertegun melihat kenyataan itu. Pelan2 jenasah diletakkan. Sang resi yang merasakan kedatangan sang Prabu bersabda

“ siapakah angger … ? “
Terbata2 sang raja berkata “ Aku Prabu Dosoroto dari Ayudyo … aku sedang kena sambekolo … tidak sengaja memanah anakmu hingga mati “ Alangkah terkejutnya kedua orang tua tadi. Dengan sedih bercampur marah, sang Wiku berkata : “ bagaimana mungkin raja besar seperti anda bisa berlaku ceroboh ! “ Prabu Dosoroto hanya bisa diam tanpa menjawab sepatah katapun. Dengan geramnya sang pandhito mengutuk Prabu Dosoroto dengan suara menggeletar.

“ wahai kulup raja Ayudyo, ketahuilah karmamu, … suatu saat nanti kulup akan mengalami hal yang membuatmu sangat berduka … anakmu akan ada yang kena bilahi … angger akan berpisah dengan anak yang paling kulup cintai … dan kulup akan mati merana dalam kesedihan … “

Sebagai raja yang berbudi mulia, Dosoroto sudah cukup tertekan dan merasa bersalah atas kecerobohannya. Kini beliau harus menerima kutukan yang tidak bisa ditampiknya. Setelah sekian lama, barulah beliau bisa melupakan supoto Sharwono. Namun, tanpa disadari Prabu Dosoroto Supoto Sharwono diam2 menunjukkan tuahnya.

Episode 3
Bebendu di Ayudyo.

Kini para putra kerajaan telah menanjak dewasa semua. Radèn Romo benar2 seorang pemuda santun dan bersahaja yang cemerlang. Ia tampan dengan tubuh atletis. Ia memiliki kharisma, mampu berbicara memukau, bahkan seolah memiliki kekuatan sihir terhadap massa. Ia dikaruniai aurora kewibawaan. Dimanapun ia melangkah, orang2 selalu bisa merasakan kehadiran sosoknya. Segala olah keprajuritan dikuasai terutama memanah. Ia menguasai taktik & strategi militer, ilmu tata negara, dll. Romo sudah menjalani uji fit & proper test sebagai calon raja dengan predikat summa cumlaude. Ia sangat pantas menjadi raja di Ayudyo.

Beberapa tahun setelah supoto Sharwono, kedigdayaan kutukan ini mulai merejam. Ada putra kerajaan yang pertumbuhannya menyimpang. Lesmono menjadi gay. Ia tampan, nyaris ayu. Tetapi dibalik penampilannya yang gemulai, Lesmono memiliki patrap 100% laki2. Ia sama sekali tidak tampak sebagai bencong. Kadang2 kabut feminin terbias dari auroranya. Ia militer tulen. Gerak geriknya sangat cekatan dan tegas, patuh, disiplin, dan sulit diajak kompromi. Radèn Lesmono yang pendiam sama sekali tidak tertarik dengan wanita. Ia pria perasa berhati lembut yang menyukai pria2 berwibawa. Radèn Bharoto dan Radèn Satrugeno tumbuh sebagai pemuda normal, mereka tertarik dengan lawan jenisnya. Kedua satrio ini selamat dari kutukan Sharwono. Sayangnya, kepribadiannya lemah. Mudah dipengaruhi dan ditunggangi pihak lain. Kedua atmojo dewi Kekayi menerima supremasi Romo selain sebagai putra permaisuri, Romo memang Jalmo Linuwih.

Ada penonton mbeler nylethuk :
+ Ki Dhalang, bahasanya kok ambur adhul ?
- Yo bèn …
+ Itu namanya Dhalang mbeler …
- Bèn aé …

Yang paling parah justru si bintang kejora yang rendah hati, Radèn Romowijoyo. Ia menjadi bisexual, tertarik dan bisa dengan laki2 maupun wanita. Namun ia lebih menyukai, nuwun sewu, silit pria. Romo & Lesmono, saudara seayah lain ibu saling menyukai. Makin tahun hubungan mereka makin erat sehingga terjalinlah hubungan kekasih. Lesmono adalah pribadi manis yang setia, ia menjalin hubungan kasih hanya dengan Radèn Romo.

+ Lho ki, … itu namanya incest, to ?
- Hè’ èh …
+ Kok begitu ?
- Bèn aé, critané ngono, kok …

Kesetiaannya bahkan bisa menjadi suri tauladan. Seumur hidupnya sampai matinya ia wadhat, tidak pernah menikah. Dalam tradisi waktu itu, laku wadat umum dikalangan pandito. Ksatria wadat tidak biasa. Dalam dunia pewayangan, hanya ada dua satrio yang selibat, yaitu Lesmono dan resi Bismo. Walaupun menyandang gelar resi, kasta Bismo adalah kasta satrio karena kedudukannya sebagai Senopati Astino. Sedangkan Lesmono wadhat karena ia memang tidak mau kawin dengan wanita.

Kewadhatan Lesmono adalah suatu misteri. Misteri kedua adalah kesetiaannya terhadap Romo yang mentakjubkan. kemanapun Romo berada, disitu selalu ada Lesmono. Berbeda dengan Lesmono yang cenderung monogamis, Romo adalah poligamis. Ini adalah sikap yang wajar waktu itu karena ia adalah calon raja. Semasa mudanya ia suka bertualang dari satu wanita ke wanita lainnya. Juga dari satu lelaki ke lelaki lainnya. Dalam hal ini ia gay aktif atau ngeloni. Lesmono adalah gay pasif atau dikeloni. Namun demikian, cinta kasihnya hanya untuk seorang – kakaknya, junjungannya, pujaan hatinya, Radèn Romo.

Penyimpangan kedua putra kerajaan itu tidak diketahui masyarakat luas. Hanya ada beberapa orang yang berhubungan dengan Romo yang tahu. Mengingat kedudukan Romo, mereka ini mendhem jero – bungkam, diam seribu bahasa. Prabu Dosoroto bukannya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Beliau tahu tetapi tidak berdaya dan tidak tahu harus berbuat apa. Setiap kali memandang Romo dan Lesmono, setiapkali pula beliau harus mengenang jasad putra Begawan Sharwono. Prabu Dosoroto mengerti bahwa ia sedang menerima bebendu.

Prabu Dosoroto berpikir, jika Romo sudah menikah barangkali orientasi sexualnya akan bergeser. Oleh karenanya dititahkannya Romo mengikuti sayembara yang diadakan di Manthili. Sebuah negara yang terletak agak jauh dari Ayudyo. Sebenarnya Romo belum begitu berminat untuk menikah. Ia begitu menikmati kebebasannya sebagai pria lajang. Ia bisa hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya dengan bebasnya. Tidak peduli bunganya jantan apa betina. Disamping itu, ia sudah berbahagia dengan adik kinasih Lesmono.

Episode 4 :
Sayembara Manthili.

Namun, Romo menyadari kedudukannya sebagai calon raja. Ia harus punya permaisuri. Disamping itu ia tertantang dengan sayembara itu. Dengan setengah hati berangkatlah Romo dengan adiknya dengan suatu tekad, memenangkan sayembara. Ia tidak begitu peduli dengan hadiahnya. Yang penting, menang.

Sayembara di negara Manthili untuk memperebutkan Dewi Sinto yang terkenal ayu moblong2 telah membuat dunia wayang gempar. Manthili bukanlah sebuah negara besar, bahkan tergolong miskin dan lemah dalam hal militer. Jika jaman sekarang barangkali seperti Kamboja atau Vietnam.
Selain cantik jelita, Sinto mewarisi bakat ayahnya sebagai negarawan. Ia mampu melakukan negosiasi2 dan cukup paham mengenai masalah2 negaranya. Sinto adalah pribadi yang tidak suka dipinggirkan, mudah mutung. Kalau sudah mutung menjadi kepati pati. Sulit disambung lagi. Ia perasa dan haus akan belaian kasih sayang dan perhatian. Ia mudah terluka.

Kiranya tidak perlu kita ceritakan bagaimana sayembara ini berlangsung. Kurang lebih seperti di pedhalangan. Romo memenangkan sayembara dan ia menjadi kawentar karenanya. Inilah debut Romo yang pertama. Sayembara ini memotivasi pemuda tampan ini. Dibalik penampilannya yang kalem, ada bara didadanya. Sebuah ambisi, sebuah visi dari sosok bermental juara.

Ketika ternyata pemenangnya adalah Radèn Romowijoyo, Prabu Janoko raja Manthili sangat bergembira. Beliau berharap kehadiran Radèn Romo bisa memberi dampak positip berupa bantuan dari negara kaya Ayudyo. Aliansi dua negara yang sebenarnya timpang. Sepertinya Manthili adalah protektorat Inggris … é klèru … Ayudyo.

Betapa bahagianya Sinto mendapatkan suami yang cemerlang dari negara kaya raya. Sinto diboyong dari negara miskin ke negara kaya ibarat kéré munggah balé. Sinto yang pada dasarnya matré agak kecewa karena Romo bersahaja, tidak gemebyar. Bahasa Jakarté, kurang ngejreng. Pada dasarnya pernikahannya bermuatan politis ekonomis. Prabu Janoko yang sangat prihatin dengan kemiskinan negaranya wanti2 kepada putri pembayunnya untuk menjalankan misi negara – meminta bantuan IMF.

Alangkah bahagianya prabu Dosoroto berbesan dengan prabu Janoko yang dikenalnya sejak kecil. Betapa bangganya sang prabu memiliki mantu yang moblong2. Segera ditandatanganinya persetujuan untuk mengimpor TKW & TKM(anthili). Namun, beliau kecewa. Romo tidak berubah.

Walaupun sudah memiliki garwo yang demikian jelita, Romo tidak menyadari pengaruh Supoto Sharwono. Romo masih sering melakukan hobbynya – sodom sana sodom sini. Tiada hari tanpa mencari **lit pria. Ia tetap saja berhubungan kasih dengan Lesmono. Sesungguhnya, Lesmonolah kekasihnya yang paling sejati dan dicintainya. Walau ia menyukai Sinto yang kinclong2, baginya Sinto adalah sebuah status simbol. Untuk menunjukkan kedigdayaannya dalam memenangkan sayembara. Baginya pernikahan ini lebih bersifat formal institusional.

Prabu Dosoroto tidak tinggal diam. Dikerahkannya pendhito2 sakti dari seluruh pelosok untuk menangkal Supoto Sharwono. Semua gagal, Romo terus saja ber-hura2 dengan bunga2 jantan. Pernah prabu Dosoroto menelpon menteri agama RI. Dimintanya dukun sakti (yang membisiki supaya menggali situs Batu Tulis) untuk menangkal Supoto Sharwono. Dipanggilnya Ki Gendheng Pamungkas. Gagal juga.

Mungkin karena pengaruh Supoto Sharwono, Romo menjadi makin lupa daratan. Ia mecoba menggoda Radèn Bharoto. Percobaannya gagal total, Bharoto menolak Romo. Bharoto sangat kaget ketika mengatahui bahwa Romo seorang bisex. Berbeda dengan orang2 lain yang tidak berani berbuat apapun atas perbuatan Romo, Radèn Bharoto mengadu kepada ibunya. Dewi Kekayi sebenarnya hanya sebatas kaget tetapi emban Mantoro dengan cepat memanfaatkan situasi ini.

“ Wah, Gusti Dewi … kalau Radèn Romo berkelakuan seperti itu, rasa2nya ia tidak pantas menjadi raja. Lebih baik gusti Dewi melaporkan peristiwa ini kepada baginda raja. Dengan begitu putra gusti Dewi bisa madheg Raja “
“ Aku rasa sulit karena baginda sangat mencintai Romo. Lagipula, ia putra permaisuri sedangkan aku ini hanya garwo ampéan“
“ Nanti dulu, gusti …

Episode 5 :
Romogate

“ Nanti dulu, gusti … sebenarnya dari ke-empat putra kerajaan tak ada seorangpun yang bisa disebut putra permaisuri. Lha, bagi pendeta atau pendeta2, mereka semuanya permaisuri. Ini bisa kita permasalahkan. Dengan mengexpose masalah ini, baginda akan takut menjadi aib karena rahasianya bahwa istri2nya dikeloni orang lain terbongkar. Yang lahir duluan adalah dèn Bharoto, ini juga satu kartu truff kita“
“ Terus, apa rencanamu ? “
“ Nanti saya yang akan mempolitisir kasus susila ini dengan memprovokasi para tokoh2 agama, poltisi2, dll. Saya bisa memanipulasi dewan agama supaya mengeluarkan fatwa bahwa gay adalah nista dan tidak diterima menjadi raja. Saya akan kerahkan politisi2 kita untuk koalisi dengan partai2 untuk membuat pansus Romogate“

Dewi Kekayi menghadap Prabu Dosoroto dan mengadukan perilaku Romo yang menyimpang. Seketika itu juga sang raja paham bahwa supoto Sharwono sedang menikam dirinya. Sebagai raja beliau memiliki kekuasaan absolut. Beliau bisa saja menutup kasus ini, bahkan menghukum yang melaporkan namun baginda raja pasrah kepada karmanya. Terbayang jenasah Sharwono dan kedukaan kedua orang tuanya. Dengan perasaan sedih beliau menyerahkan masalah ini kepada pemuka2 negara. Waktunya telah tiba – Supoto Sharwono telah datang menjemput karmanya, beliau akan terpisah dengan putra tercinta. Dan ajal sedang menghampiri. Prabu Dosoroto menarik nafas, dan tanpa disadarinya ia menyenandungkan doa2 kematian. Bagi dirinya. …

Pada saat yang bersamaan, manuver emban Mantoro bekerja dengan efektif. Sebuah pansus Romogate dibentuk untuk mengadili kasus penyimpangan Romowijoyo, yang sebenarnya sudah lulus uji proper & fit untuk menjadi raja Ayudya. Namun yang terjadi mirip dengan kasus Anwar Ibrahim von Malaysia. Dari segi manapun Anwar dianggap mampu untuk memimpin Malaysia. Karena nila setitik, karena nyodomi sopirnya, rusak susu sebelangga.

Begitu pula halnya dengan Romo. Tak ada seorangpun yang meragukan kapasitas istimewa yang dimiliki Romo. Sebenarnya kelemahan Romo bukan masalah besar dalam hal tata negara. Ini masalah pribadi. Namun perilaku bisexual saat itu dianggap perbuatan nista. Keadaan bertambah parah karena maneuver2 politik dan provokasi emban Mantoro yang gencar. Prabu Dosoroto benar2 pasrah atas karmanya dan sama sekali tidak mencampuri Pansus Romogate. Terjadi heboh di Ayudyo dan akirnya pansus Romogate berhasil menjatuhkan Romo. Raden Romowijoyo dipidana, ditundhung (diusir) dari Ayudyo 12 tahun lamanya.

Kita tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Itu adalah intrik2 politik sukseksi. Yang sering terjadi adalah ‘sibling rivalry’ atau rivalitas antar saudara yang bisa kita perluas menjadi rivalitas antar kerabat. Kasus ini mendominasi kisah ini. Mahabharata adalah perang saudara tunggal embah. Pecahnya Mataram menjadi Paku Buowno, Mangkunegoro, dan Hamengkubuwono tak lain adalah kasus sibling rivalry. Terkadang sebenarnya sibling rivalry tidak begitu keras namun (selalu) ada pihak ketiga yang menunggangi rivalitas saudara sekandung itu. Di RI, kita lihat ada partai yang mengusung Rahmawati sehingga timbul sibling rivalry antara kedua mbakyu-adi ini. Dalam kasus retaknya Mataram, Belandalah si pihak ketiga.

Dalam pakem, kasus Romogate adalah rivalitas istri2 prabu Dosoroto. Dalam versi ini, pihak ketiga adalah mbok emban Mantoro.

Jika Romo ditundhung, kemungkinannya ‘salah’ atau ‘kalah’. Jikapun salah, mungkin kesalahannya bukan kasus homosexual. Bisa saja misalnya ia korupsi atau mismanagement. Atau, emban Mantoro yang mengusung Bharoto punya pendukung kuat sehingga bisa menjatuhkan Romo. Bisa juga terjadi, prabu Dosoroto dikalungi clurit dipaksa mengusir Romo dan mengangkat Bharoto. Kita tidak tahu apa yang terjadi. Seolah kita melihat sebuah kotak hitam. Tahu2 Romo terpental.

+ Lho, ki Dhalang, sik, sik, sik …
- Opo ?
+ Ini wayang kok nggladrah soal2 politik ?
- Lho, kan sudah tak bilangi cerita ini didominasi soal2 politik & militer ?
+ O, enggih dhing … lali kulo …
- Sopo jenengmu ?
+ Paijo
- Kéné duduk dekat aku kéné, tak jadikan asisten Dhalang
+ Nggih …. tapi Ki …, dhagelannya maaana ?
- … mengko ….
+ Nggih ….

Episode 6
Romo Tundhung

Ketika semua orang sedang heboh, ada seorang wanita yang sangat terpukul – Dewi Sinto ! Ia benar2 tidak mengetahui penyimpangan yang diderita suaminya. Lebih parah lagi ketika ia mengetahui bahwa madunya laki2 ! Namun ia tidak sempat berpikir panjang. Kejadian berlangsung begitu cepat. Kemarin tidak terjadi apa2, tahu2 kini ia harus berkemas mengikuti suaminya jadi makhluk terbuang.

Akhirnya, nyaris tanpa persiapan berangkatlah Romowijoyo dengan istrinya, diikuti adik kinasih Lesmono. Dalam versi pedalangan ini kelihatan aneh. Lesmono ikut pasangan yang memadu kasih. Apa ia hanya disuruh mrongos melihat Romo-Sinto karonsih sepanjang jalan ?

Begitu Romo bertiga meninggalkan Ayudyo, emban Mantoro bergerak lebih jauh dengan mengirimkan pasukan untuk membunuh Romo. Namun Romo & Lesmono mampu mengalahkan pasukan itu. Bahkan dari peristiwa itu, kedua satrio ini tahu bahwa emban Mantorolah aktor intelektual dibelakang pansus Romogate. Setahu Romo, Radèn Bharoto sama sekali tidak menunjukkan ambisi madheg narendro. Begitupun tante Kekayi, walaupun memiliki sifat iri, Romo menampik kemungkinan bahwa tante yang berada dibelakang semua ini.

Bagi Romo sebagai manusia pinilih, ini bukan masalah berat. Dengan tenang diterimanya pengusiran ini bagaikan sebuah acara piknik. Namun, di dalam hatinya ia bersumpah akan merebut kembali tahtanya dari emban Mantoro.

Dalam versi pewayangan, perjalanan ke pembuangan dihutan belantara adalah kisah romantis. Namun tidak demikian halnya dengan Sinto. Ini adalah sebuah malapetaka. Tiap kali suaminya pamit cari makanan Sinto tahu bahwa Romo sedang memadu kasih dengan Lesmono. Didepan hidungnya ! Wanita mana yang tidak sakit hati ? Tiap kali ditinggal sendirian dihutan, cuma disuruh mrongos membayangkan Romo & Lesmono ambung2an yang pasti berujung dengan kelonan.

Dulu di Manthili ia terbiasa hidup sederhana karena memang negaranya miskin. Ketika menjadi menantu Ayudyo, tiba2 ia bagaikan kéré munggah balé. Shopping barang2 mewah, pesta2, makan enak, hura2, dll. Belum lama ia menikmati semua ini, tiba2 ia sekarang terbanting harus mudun balé. Malah lebih miskin dari dulu ! Ia harus kemekelen makan daun, rumput2an, tekèk, thok-érok, bandhempo, escargot. Escargot ? Ada masakan Perancis ? Bukan, escargot itu bahasa Jermannya bekicot. Jalannya becek, banyak nyamoek, kalau hujan trocoh. Pokoknya, hidup serba horotoyonoh.

Ia berharap bersuamikan raja tetapi sekarang Romo malah di-phk, jadi kéré unyik tur madesu – masa depan suram. Sinto sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi dalam mengemban tugas negara, meminta bantuan IMF. Lha wong suaminya sudah di Romogate-kan. Sudah ditinggal sodoman, jadi kéré, masih harus makan tekèk ! Menghadapi masalah itu lama kelamaan Sinto jadi tidak tahan hidup ngeres seperti itu. Ketika seseorang lewat membawa HP, ia pinjam dan kirim SMS kepada ayahnya supaya dijemput.

Menerima SMS dari alas gung liwang liwung Dhandhoko, segera Prabu Janoko mengirimkan surat balasan.

Pamuji Rahayu

Kata pembukaan … blah … blah … blah …

Betapa sedih hati ayahanda menerima kabarmu. Jika menuruti kata hati, rasanya aku akan segera menjemput putri yang kusayangi. Namun, ngger anakku, pahamilah posisi ayahmu sebagai narendro yang harus memenuhi sabdo pandito ratu. Kamu sudah kuserahkan kepada Radèn Romowijoyo dan aku tidak bisa dan tidak mau menjilat kembali pocapanku kecuali jika kamu dikembalikan padaku.

Keduakalinya, ingatlah kedudukanmu sebagai garwo, sigaring nyowo atau belahan jiwa. Tidak sepantasnya kamu meninggalkan suami yang sedang dalam kesusahan. Janganlah Swargo katut Neroko tidak ikut. Menjadi sisihan artinya selalu berada disisinya, baik dalam suka maupun duka. Jika ada masalah diantara kalian berdua, selesaikanlah diantara kalian berdua. Mertua tidak selayaknya intervensi urusan dalam negri, malah membuat situasi makin kisruh kehidupan rumah tanggamu.

Akirnya, besarkan hatimu, Radèn Romo bukan manusia sembarangan. Ia jalmo pinunjul. Ia pasti mampu mrantasi gawé. Mengingat beratnya keadaanmu, untuk sementara ini kutarik kembali tugas2 negaramu. Biarlah ini menjadi masalah para pranoto negoro.

Blah … blah … blah … penutup dan doa restu

Ayah bunda tercinta
Prabu Janoko

Menerima surat dari ayahnya yang begitu, Sinto jadi nglokro. Jika ayahnya saja tidak bisa dan tidak mau mengulurkan bantuan, siapa yang bisa ?

Episode 7
Sinto Mutung

Sementara itu Romo sedang bermuram durja. Bukan, bukan karena kekalahan politiknya ia bermuram durja. Bagi manusia unggul ini, peristiwa politik itu tidak membuat nyalinya jadi ciut, sebaliknya semangatnya makin makantar kantar. Ia bahkan sudah mempunyai konsep bagaimana ia akan membuat perhitungan. Yang membuatnya sesak hati adalah penyimpangan sexual yang dialaminya. Bukan maunya ia menjadi begitu, tetapi ‘kodrat’ atau apalah namanya. Itu menyebabkannya ia menjadi jalmo kesampar, makhluk yang terpinggirkan, yang dinista. Ia merasa kurang dihargai dan tidak diperlakukan dengan adil.

Tuna netra, tuna wicara, dll, diterima dengan baik dalam masyarakat. Bahkan penyandang2 cacat itu ada yang mendapat perlakuan istimewa. Bagi Romo, apa yang diidapnya adalah sebuah cacat, yang mungkin sifatnya biologis, sama halnya dengan kusta, kelumpuhan, dll. Mengapa kaum homosexual tidak mendapatkan kedudukan yang layak ? Terkadang Romo menjadi geram dengan apa yang dideritanya

Radèn Romowijoyo terjepit antara marah dan nelongso. Jika ia menuruti kodratnya sebagai bisex, ia akan berhadapan dengan tatasusila yang sudah mapan ber-abad2 lamanya. Jika ia mengingkari kodratnya, ia seolah bersikap lamis. Mengingkari jati dirinya yang sejati. Jika ia persetankan tata susila, ia akan menimbulkan heboh. Tetapi semua sudah jadi bubur, ia harus membayar mahal dampaknya. Ia terjungkal dari posisinya sebagai calon raja.

Nandang susah, lama kelamaan Sinto makin tidak tahan. Sinto tidak lagi sudi diduakan dengan laki2 lain. Laki2 lain ! Dengan wanita lainpun sudah cukup menyakitkan, apalagi dengan pria lain ! Jika ia membayangkan Romo & Lesmono karonsih, nafasnya menjadi sesak, badannya menjadi gemetar, tulang2nya serasa dicopoti. Tiap kali ia tinggal sendirian Sinto selalu merasa nglangut dan keinginannya pulang makin kuat. Ia menginginkan kehidupan ngejreng, bukan jadi kéré. Ia berambisi jadi permaisuri, bukan bini orang dihutan. Ia mangemban tugas negara ! Akirnya Sinto tidak tahan, dengan tersedu sedan ia menghadap Radèn Romowijoyo.

“ Kangmas, saya sudah mencoba dengan segala cara untuk menerima kenyataan bahwa saya harus hidup berbagi dengan pria lain. Namun kangmas, hati saya jadi remuk redam. Saya jadi lemas tiapkali mengingat keadaan ini. Saya menyadari bahwa keberadaan saya disini malahan menjadi duri dalam kehidupan kakanda. Seperti kata lady Di, … there is not enough room for the three … salah satu harus mungkur. Biarlah saya yang mungkur, kangmas. Biarlah kangmas berbahagia. Saya rela … pulangkan saya ke Manthili … “

Romo kaget dan ia coba mengalihkan perhatian : “ Yayi Sinto, maafkan aku sehingga adinda harus terpuruk di hutan Dhandhoko ini … keadaan memang berat bagimu, tetapi yakinilah bahwa Radèn Romowijoyo tidak akan tinggal diam. Aku rasa yang kau keluhkan adalah karena kesulitan ekonomi. Jika aku telah bisa atasi semuanya yayi Dewi akan mukti wibowo kembali seperti semula. Jika kamuktèn telah kita capai, semua yang yayi keluhkan akan hilang dengan sendirinya “

Namun Dewi Sinto tetap puguh. Ia mendesak bahwa salah satu, dirinya atau Lesmono harus mungkur. Romo serba salah. Sebenarnya ia lebih mencintai Lesmono, tetapi memulangkan Sinto menjatuhkan kedudukannya sebagai satrio yang harus mempertahankan apa yang telah disanggupinya. Belum lagi jadi raja, ia sudah mengingkari kesanggupannya. Jika ini dilakukan, musuh2 politiknya bisa memlintir kasus ini (lagi).

Diantara 3 orang itu Lesmonolah yang paling sumèlèh hatinya. Ia menerima kodratnya sebagai gay. Ia tidak bersikap lamis. Ia tampil dalam jatinya sebagai gay. Cinta kasihnya kepada kangmasnya, yang juga junjungannya, adalah sebuah cinta suci. Baginya, mencintai adalah memberi. Menirukan Ebiet … cinta tidak mesti bersatu …. Sebagai pribadi perasa melihat Romo gundah ia tahu gelagat. Ia tanggap ing sasmito, paham dengan apa yang berkecamuk didada pujaan hatinya. Ia merasa sedih akan peristiwa yang sedang dialaminya tetapi ia iklas. Biarlah pujaan hatinya bisa melaksanakan dharmanya.

Episode 8
Lesmono Mungkur

“ kangmas Romowijoyo … telah sekian lama saya mengikuti pembuangan di alas Dhandhoko ini, … saya rasa sekarang waktu yang tepat bagi saya untuk menyendiri dalam sepi, … menyucikan jiwa saya dengan bertapa puja semedi ditempat yang jauh, kakanda. … Saya … tidak akan kembali lagi … “ Lesmono bicara dengan sikap tegar namun terlihat ada yang kontras, ia menggigit bibirnya. Seperti perempuan. Matanya kembeng2. Romo juga tanggap ing sasmito, ia paham bahwa adiknya yang dicintainya telah mungkur, mengorbankan dirinya. Romo serba salah, menahan salah, melepaskan juga keliru. Tetapi Lesmono sudah bulat tekadnya. Romo berusaha menahan namun ini tak lebih dari sikap sopan santun. Dari kejauhan, Sinto tertunduk menahan haru menyaksikan kakak beradik yang saling mencinta itu berpisah. Demi dirinya. Hati wanitanya yang lembut terasa tergores, menyesal telah mengusir Lesmono. Namun kembali badannya merasa lemas menyaksikan bagaimana kedua insan itu berangkulan menghilang di kerimbunan hutan. Kelonan … kelonan yang pungkasan.

Akhirnya, Lesmono pergi meninggalkan alas Dhandhoko. Untuk bertapa disuatu tempat yang tidak jauh dari situ. Setiap hari ia hanya sesaji, tabur bunga, dan bertapa menggumamkan puja puji kepada Dewata2 di kahyangan. Diiringi tangis pilu burung Kedhasih.

Untuk kesekian kalinya Romo terhimpit rasa salah, sedih, sekaligus marah. Marah kepada Bhatoro Komojoyo yang telah membuatnya ia mencintai sesama pria. Adiknya, lagi. Namun dengan cepat Romo menyadari bahwa memang cinta itu buta. Cinta tidak mengenal ras dan bangsa. Tidak perduli dengan umur dan tidak harus antara pria dengan wanita. Bisa saja kasih sayang antara binatang dan manusia, cinta ayah-bunda, cinta saudara kandung, dan pria dengan pria serta wanita dengan wanita. tidak perduli kedudukan, bisa saja si miskin jatuh cinta kepada yang kaya dan sebaliknya. Panah asmara Betoro Komojoyo memang sakti, siapapun tak akan berdaya menghadapinya. Cinta itu buta …

Sementara kita tinggalkan dulu kemelut cinta segitiga di hutan Dhandhoko. Sepeninggal Romo Prabu Dosoroto sangat berduka. Ia sangat sedih kehilangan Romo dan batinnya resah menyerahkan kekuasaan negara kepada Radèn Bharoto yang pribadinya lemah, mudah ditunggangi pihak lain. Begitu sedihnya Prabu Dosoroto sehingga beliau jatuh sakit sampai ber-bulan2 lamanya. Supoto Sharwono telah menjemput baginda raja. Beliau meninggal dalam kesedihan yang nestapa.

De Juro, raja Ayudyo adalah Prabu Bharoto tetapi de facto ratunya adalah emban Mantoro yang menjabat sebagai menteri sekretaris negara. Kekuasaannya begitu besarnya sehingga sekretaris negara seolah menjadi negara dalam negara. Semua pejabat2 penting diganti oleh orang2 mbok emban. Semua keputusan2 penting harus melalui sekneg. Orang2 yang setia kepada Romo dipinggirkan. Ada yang dipensiun, di phk, di dubeskan, sampai dipenjara. Banyak yang terbunuh tanpa ketahuan kuburnya. Kekuasaan Rekyono Patih, yang seharusnya lebih tinggi dari Sekneg dilucuti.

Radèn Bharoto dan biyungnya Dewi Kekayi tak lebih dari simbol negara. Ayudyo yang semula monarchi absolut menjadi semacam kerajaan di Timur Tengah dulu, dimana kekuasaan berada ditangan para wazir. Sultan tak lebih hanyalah symbol. Emban Mantoro sangat berkuasa dibidang keuangan. Semua pendapatan & belanja negara berada dibawah ketiaknya. Ia memperkaya diri mengejar mukti wibowo dengan korupsi.

Di Manthili keadaan jadi runyam. Sebelum Romo ditundhung banyak2 proyek2 yang didanai Ayudyo. Begitu Romo ditundung, bantuan keuangan dari Ayudyo tersendat, praktis terhenti. Proyek2 terbengkalai, pengangguran meruyak, dan mata uang njondhil2. Jatuh dari 2,500 ke 7,500 terus naik turun tidak jelas juntrungnya. Tiap kali Ayudyo minta bantuan selalu harus melalui emban Mantoro. Ketika Prabu Dosoroto sakit dan kemudian meninggal, Ayudyo seolah kepatèn obor. Ayudyo kehilangan koneksi dan terpaksa berurusan dengan emban Mantoro. Tiap kali mbok emban dimintai bantuan, jawannya selalu enggah enggih tetapi tidak pernah kepanggih. Seringkali bersikap seperti IMF, rewel. Harus begini, begitu, beginu. Pembesar2 Ayudyo sampai jengkel. Hubungan diplomatik jadi tegang. TKW & TKM(anthili) dipulangkan semua dari Ayudyo. Begitu jengkelnya sampai Manthili membuat stempel raksasa bertuliskan satu kata. Tiap kali emban Mantoro membuat syarat macam2, langsung dicap dengan stempel merah itu, yang sebesar kwarto – Prèk !

Gambar : Lesmono & Romo sedang karonsih.

Episode 9
Sinto Purik

Dihutan Dhandhoko, sepeninggal Lesmono, keadaan tidak menjadi lebih baik. Romo sering termenung menyendiri memandang bulan merah sambil menyenandungkan lagu2 putus kasih. Hatinya sedih membayangkan adik kinasih sendirian bertapa di gua yang sunyi sepi. Ia menyesal telah melepaskan orang yang paling dicintainya, demi laku satrio utomo, yang sebenarnya sikap lamis. Demi ambisi politiknya untuk kembali madheg narendro dengan mengorbankan orang yang ingin menyayanginya dan menyanding orang yang tidak begitu disayangi.

Melihat kenyataan seperti itu, Sinto menyadari bahwa ia sedang menghadapi kenyataan pait. Cinta Romo hanya untuk adi kinasih walau orangnya telah mungkur. Yang dimiliki Sinto hanyalah sosok Romo, bukan hati Romo. Yang dihadapnya hanyalah raga Romo, bukan sukmanya. Yang digenggam Sinto hanyalah secarik kertas nikah, bukan jati diri Romo. Sukma Romo tidak disisihnya, tetapi mengembara ke gua sunyi mendengarkan dengung kidung2 Lesmono. Melihat kenyataan itu, Sinto makin merana. Ia dinikahi bukan atas dasar cinta. Ia tak lebih dari sebuah vas bunga pajangan. Entahlah, untuk menunjukkan betapa saktinya Romo dalam memenangkan sayembara, dharma sebagai satrio utomo atau hanya sebagai padalan ambisi politik Romo.

Air mata Sinto sudah habis. Sinto sudah mutung, hatinya retak ber-keping2. Ia sudah tidak bisa lagi menangis. Harga dirinya sebagai wanita tertusuk “ Aku bukan vas bunga, aku wanita yang merindukan kasih sayang dan pelukan mesra. Aku sisihan yang seharusnya disisimu, bukan hanya status ” Disisi lain, Sinto terhimpit rasa bersalah telah mengusir Lesmono. Salah apa dia ? Selama ini, pemuda lembut ini sikapnya sangat baik kepada Sinto, nyaris sempurna. “ Mengapa aku tega kepadanya … ? “

Makin hari hati Sinto makin kalut. Ia serba salah. Sikap Romo kepadanya baik bahkan ia rela berpisah dengan yang tersayang. Sinto tidak punya alasan apapun untuk merajuk. Ia tidak bisa memaksa Romo mencintainya. Pada suatu hari ketika Romo sedang berburu mencari makanan, Sinto nekat minggat dengan meninggalkan surat singkat yang ditulisnya pada daun2 hutan.

Kangmas Romowijoyo

Sepeninggal dhimas Lesmono akhirnya saya menyadari bahwa cinta kasih kangmas hanya untuknya seorang. Bagi kangmas, saya tak lebih sebuah pelengkap untuk memenuhi statusmu. Kita tidak perlu berpura pura lagi bahwa kita bukan garwo, bukan sigaring nyowo. Oleh karenanya saya meninggalkan kangmas. Kita bercerai. Itulah yang terbaik bagi kita beriga, Saya akan mencari dhimas Lesmono untuk minta maaf dan memintanya kembali bersatu dengan kangmas. Kemudian, saya akan mengembara mengikuti jejak kaki. Semoga bahagia selalu.

Salam hormat
Sinto

Tersaruk saruk Sinto meninggalkan hutan Dhandhoko. Ia benar2 tidak tahu harus kemana pergi. Ia tidak tahu dimana Lesmono. Tidak mungkin ia pulang ke Manthili karena ayahnya telah wanti2 kepadanya untuk tidak purik. Ia jerih kembali ke Romo, hatinya sakit melihat Romo hanya menatap bulan merah membayangkan Lesmono. Sinto sudah mutung, tung. Belum lagi becek, digigit nyamuk, makan tekèk, dll. Ia melangkah dan melangkah terus mengikuti langkah kakinya. Dalam bayang2 rasa bersalah karena mengusir Lesmono ….

Tanpa disadarinya ia telah keluar dari hutan Dhandhoko dan masuk laladan lain. Hutan Jantoko yang gelap pekat, tempat yang gawat ke-liwat2. Jika ada sato kewan masuk, pasti mati. Apalagi jika itu bangsanya ayam, bebek, kambing, sapi. Pasti jadi ingkung, tong-sèng, empal atau steak. Jika ada manusia masuk kesitu, harusnya mati. Tetapi laladan ini lebih gawat. Yang masuk mesthi disiksa, dislomoti rokok, dan ditempilingi dulu. Banyak manusia hilang disini tanpa ketemu kuburannya. Wé lha dalah gawat nian …. , laladan apa ini ? DOM ! … daerah operasi militer. Wuaduh, lantas siapa komandan DOM-nya ? Dalam keremangan samar2 muncul sosok tubuh tinggi besar. Rahang bawahnya panjang dan taring tunggalnya mencuat keatas mingis2. … Kolonel Telik Sandi negara adidaya Alengko Dirojo ! … Dityo Kolo Marico !

Eèèèng … ing … èèèèèèèèèèèèng …..

+ Kiiiiiii… !
- Opo …. !
+ Gamelannya kok begitu ?
- Iki gamelan Londo, tau’ ?
+ Begini saja, Ki : mung, mung gung mung gung mung gung mung .., mung …
- Emoh ah, èlik
+ Kok jelek ?
- Suaramu pating gedhumbrèng koyo èmbèr di thuthuki !
+ Wo, nggih …

Ramayana (Sri Lanka Version)
sumber: http://groups.yahoo.com/group/seni-wayang

Posted in Ramayana (Sri Lanka Version) | Tagged | Leave a comment

Parwo Jantoko

II. Parwo Jantoko

II. Parwo Jantoko
10Janda di sarang penyamun
11Si Molek dan Si Penyamun
12Julang Pilar Hitam
13Sarpokenoko Grumpung
14Dada yang membara
15Pitam di Manthili
16Sinto Ngèngèr
17Jatayu Kamikaze

Episode 10
Janda di Sarang Penyamun

Begitu masuk Dewi Sinto langsung diinterogasi Dityo Kolo Marico.

“ eiiiit …. ini ada cewek nan cantik jelita, … siapa kau, dari mana asalmu, ngapain kesini ? … mana ktp, sim, paspor, visa, izin kerja, daftar riwayat hidup, ppn, pajak, … dst … dst “
“… Tumbaaaaas … Aku kesini mo beli bakpya pathook … Kamu siapa ?“

“ eiiiiit … disini tidak ada bakpya pathook, adanya minyak tanah, mau ? Saya Dityo Kolo Marico van der Alengko Dirojo. Siapa kau ?
“ Wo, kamu Kolo Wahing, to ?
“ eiiiit …, wahing ?
“ Lha, Mrico itu rak bikin wahing, to ? Aku Dewi Woro Sinto binti Janoko von Manthili “
“ eiiiit …, putri Prabu Janoko, to ? …. monggo … monggo …
“ Kamu tahu keadaan Manthili ? “
“ eiiiit … tahu. Intelejen saya melaporkan keadaan Manthili sedang krisis ekonomi !
“ sik, siapa bossmu …. ?
“ eiiiit …, Sarpokenoko menko polkam itu boss dan istri saya. Rajanya ratu gung binatoro yang menguasai hutan ini Prabu Rahwono.”
“ Apakah kita bisa berbicara dengannya ?
“eiiiit …, kebetulan, dua-tiga hari lagi mereka akan datang. Silahkan tinggal di dalem Kolo Marican, gusti Dewi“
“ Bagus, aku mau buat political deal dengan sang Prabu … “

Mengetahui keadaan Manthili sedang susah darah negarawan Sinto terusik. Ia tahu bahwa Alengko adalah negara facist adidaya yang sangat kaya raya.

Beberapa hari kemudian datanglah penguasa rimba Jantoko, maharaja Prabu Rahwono dengan diiringi oleh adiknya, Dewi Sarpokenoko. Prabu Rahwono tubuhnya tinggi besar dengan badan gempal penuh otot pating pethekol mirip Ade Rai, Arnold Schwarzneger, atau the Rock. Lehernya leher beton dengan rambut gimbal terurai krembyah2. Prabu Dosomuko adalah raja pemarah – bludregan. Ia tidak bisa dibilang tampan. Rahangnya pesegi kukuh yang justru memancarkan citra jantan. Matanya mudah melotot. Jika bicara seperti mem-bentak2 dan selalu diikuti dengan sumpah serapah. Jika berjalan selalu menghentak hentak bumi sampai serasa ada gajah lewat. Raja gung binatoro ini sangat pd, nyaris megalomania.

Sarpokenoko adalah wanita militer. Tubuhnya juga tinggi besar. Dandanannya menor dan suaminya banyak. Poliandri umum diwaktu itu. Di Mahabharata Dewi Drupadi atau Dewi Pancali bersuamikan lima orang. Kol. Marico adalah salah satu suami Sarpokenoko.

Setelah dikenalkan dan basa basi, Sinto mulai bicara
“ Prabu Rahwono, izinkan saya bicara ‘
“ Mau apa kau ! “ Dengus bernada bariton keluar dari rahang kukuh Rahwono.
“ Negara saya miskin, kanjeng Prabu. Saya hendak minta bantuan. Sebagai imbalan, negara kami akan menyerahkan pangkalan militer “
“ Mengapa harus membantumu, hah “ Sang raja ganas bereaksi “ Tak gempur negaramu jebol ! “ Rahwono menggeram menunjukkan jati dirinya sebagai makluk ganas. Sinto yang selama ini dirundung nestapa mendapat kesempatan untuk melupakan pedih hatinya. Ia tertantang menjinakkan si buas.
“ Kanjeng Prabu tidak perlu menggempur negara saya yang miskin dan lemah. Mengapa tidak menggunakan modus operandi yang lain ? “ Sinto tersenyum manis. Ia menyukai peranan barunya. Kemanapun ia pergi selalu dilelo lelo seperti golek emas. Tidak ada seorangpun mengijinkannya bekerja keras. Sekarang ia harus meyakinkan si Penyamun. Ia menyukai peranan barunya. Semangatnya ma-kantar2. Disisi lain sang maharaja ter-heran2 ada makluk lemah dan rapuh ngèyèl. Ia selalu berhadapan dengan raja2 dan satria2 perkasa dan berujung dengan lutahing ludiro (banjir darah). Sekarang berhadapan dengan wanita. Raja besar yang kuper dengan wanita jadi kikuk. “ Modus operandi apa ? “
“ Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasoraké, dan sakti tanpo aji “ Sinto menyembah takjim. “ Opo kuwi, ndhuk ? “ Rahwono mulai tertarik. Ndhuk ! Sinto nyaris berteriak kegirangan, nada ndhuk-nya nada kekeluargaan. Si Penyamun sudah tidak lagi melihat dirinya sebagai mangsa ! Diusapnya keringat dingin di keningnya.

Episode 11
Si Molek dan si Buas
Beauty & the Beast

“ Selama ini baginda selalu mengerahkan wadyo bolo pirang2 bergodo, menang dengan mengalahkan dan selalu ngagem aji2 “ Sinto mengerahkan kasudibyan salesmanshipnya. “ Sekarang kita coba menaklukkan tanpa wadyo bolo, tanpa aji2, dan tanpa menyakiti warga sana, bisa tidak “ Sikap Sinto mengusik “ Selama ini gusti Prabu selalu memakai modus operandi lutahing ludiro, sekarang kita coba modus baru, kanjeng Prabu “ Wajah sangar Rahwono meredup, ia menyimak kata2 Sinto dan Sinto mulai berkicau. Saat itu Sinto merasa bebas, lepas dari suami yang tidak mencintainya. Ia menjadi dirinya.

“ Kanjeng Prabu sugih kendel bondho wani. Itu memang perlu tetapi tidak cukup “
“ Opo manèh ? “
“ Sugih pétung bondho kaweruh. Kaweruh itu digembol ora metosol, diguwak ora gemrosak “
“ Wuik, opo kuwi, ndhuk “
“ … ihik, hik, hiiii hikk … saya juga tidak tahu … cuma mbagusi kok … hik hik …“ Sinto terkikik sambil menutupi mulutnya. Wajahnya tampak naif dan manis. Seperti bocah ketahuan bohongnya. Sang Raja ter-bahak2 dikerjain gendhuk itu.

Kemudian pembicaraan bergeser, Sinto mulai bicara tentang dunia kecilnya dihutan kemarin. Tentang kembang Sepatu, Menur & Kenongo, burung Bekisar, bahkan tok-érok dengan matanya yang seperti kelereng. Dengan mata berbinar diceritakannya sayap2 bening bandhempo yang seperti kain sutra. Sampai larut malam.

Pada hari yang lain Sinto bicara tentang Jongko Joyoboyo, tentang serat Purbojati, tentang ngelmu bejo Ki Ageng Suryo Mentaram. Lalu ke Timur Tengah. Dilantunkannya aporisma Kanjeng Resi Kahlil Gibran. Tentang butir2 pasir dan buih2 dilaut, tentang hampa, sunyi dan senyap. Kadang digelorakannya puisi dari entah berantah.

Selama ini dunia Rahwono adalah dunia satu dimensi. Selalu tentang darah, darah, dan darah. Malang melintang dari satu medan laga ke medan tempur lainnya, Dalam keriuhan ringkik kuda, deru campur debu, lolong kematian, sumpah serapah. Tentang bagaimana meretakkan rahang lawan. Tentang bagaimana menebang leher musuh. Tentang bagaimana memporakporandakan pertahanan lawan. Dunia lutahing ludiro … bau anyir mengikuti kemana Raja beringas ini pergi. Kini Sang Penyamun teretegun melihat dunia lain. Dunia yang tak pernah dijenguknya. Tentang Semprang yang ekornya njeprik, tentang anak2 bebek yang namanya minthi.

Kemudian tentang Ronggowarsitan; tentang Kolotidho, Kolobendu, dan Kolosubo. Tentang Unining Uninang Uninong Syech Siti Jenar. Sang Maharaja tergugah; ia melihat dimensi lain selain genangan darah merah. Ia mulai menyukai kicauan si burung Pipit kecil mungil, si gendhuk Sinto. Gendhuk mungil itu menghadirkan pelangi dalam hidupnya.

Disisi lain, rasa bombong merayap dihati Sinto. Berbulan di alas Dandoko serasa tidak punya arti. Di Jantoko ia melakukan peranannya nyaris sempurna. Negotiator par excellence ! The beast nyaris dijinakkannya, ia tidak lagi buas. Harga dirinya membubung naik. Mendung yang menyaput wajahnya tersibak sampai sumeblak. Kecantikannya kembali mencorong seperti bulan moblong2. Semua orang terpesona oleh kecantikannya tetapi si buas ini tidak. Ia sudah tuwuk dengan gadis cantik. Baginya, mencari gadis ayu semudah memijit buah Ranti. Ia lebih menyukai kicauannya dan Sinto sangat berbahagia dengan sorot mata menyanjung dari si buas. Hati Sinto ber-bunga2. Ia merasa bebas, seperti burung terbang diangkasa melayang-layang. Sinto menjadi sedikit liar.

Malam itu bulan purnama. Sinto & Rahwono bercengkerama berdua dipinggir sebuah sungai. Entah apa yang sedang terjadi, mungkin Bathoro Eros sedang lewat disitu. Atau Sinto ikut2an meminum anggur Sang Penyamun yang membuatnya sedikit pusing. Suasana begitu indah dan Sinto tergerak untuk mengramasi rambut Sang Penyamun yang gimbal dan krembyah2. Sang maharaja manut, ia telentang dipinggiran pasir kali yang basah. Dibiarkannya gendhuk mungil itu membasahi rambutnya. Sambil berdendang, Sinto mengeramasi rambut Sang prabu. Kemudian dibasuhnya muka Sang Raja sambil tiap kali membetulkan kemben yang lobok. Kemben pinjaman mbakyu Sarpokenoko kedodoran. Selalu mlotrak mlotrok.

Episode 12
Julang Pilar Legam

Lama2 Sinto gregeten. Kemben akirnya ditanggalkannya dan ia bertelanjang dada. Sepasang cengkir gading yang indah bergelantungan dengan bebasnya. Sinto membasuh leher Rahwono, kemudian kebawah, mengusap badan Sang prabu yang penuh bulu. Badannya bergoyang dan terkadang sepasang cengkir gading itu berayun-ayun menyapu badan Rahwono. Ketika membasuh lengan, telapak tangan Sang Raja dilekatkannya ke dadanya.

Ketika sampai kepinggang Sang Raja, tanpa wigah wigih disingkapnya kain Rahwono. Janda muda itu terkesiap nyaris terpekik. Ada pilar menjulang tegak. Seperti batu gilang hitam legam. Besar. Untuk sesaat Sinto terpana dan terasa darahnya berdesir. Diambilnya segayung air dan disiramnya pilar hitam itu. Kemudian diusapnya pilar itu. Jari2 lentiknya tampak mungil menyusuri pilar yang menjulang seolah menuding indahnya Sang Ratri. Lalu dikecupnya mahkota pilar itu. Seolah mengecup sekuntum mawar. Bukan mawar merah atau putih, mawar hitam. Mulutnya tampak kecil, apalagi ketika pilar itu masuk kemulutnya. Beberapa saat pilar itu diantara kemungilan jari2 lentik dan mulutnya. Lalu didekapnya pilar itu kedadanya. Pilar itu terasa hangat. Dan putik sepasang cengkir gading itu merona ke-merah2an. Tiba2 Sinto merasa ada yang basah mbrebes mili dari dirinya, dan hangat. Sembari berdiri dibukanya kain yang menutup tubuhnya. Ia kini berdiri tanpa sehelai benangpun dan rembulan membuatnya seperti bersinar gilang gemilang. Rahwono memandangi tubuh mungil indah itu. Dan pilar legam itu terangguk-angguk, seolah memengagumi keindahan tubuh molek itu.

Sinto merebahkan badannya kepaha Rahwono. Seperti cecak ia merayap ke tubuh Dosomuko yang terlentang. Pelan2 keatas sambil menciumi seluruh tubuh Sang Penguasa rimba Jantoko. Cengkir gadingnya menyusuri tubuh Rahwono yang penuh bulu. Dua2nya tergetar. Terasa bagai ada dua butir kerikil diujung cengkir gadingnya menyentuh tubuh Sang Raja. Akirnya Sinto sampai keatas, nafaspun menderu. Dikecupnya pipi Sang Penyamun dan kemudian didapatnya mulut Sang Raja. Desah nafas keduanya makin menderu. Tangannya me-raba2 mencari-cari pilar itu. Antara gairah dan sedikit takut karena pilar yang kelewat besar Sinto … sensor … sensor …. sensor ….

Sekian lama ia menikah, Sinto tidak pernah merasakan dirinya begitu nikmat. Suksmanya serasa terbang melayang ke awan. Selama ini ia merasakan suami yang setengah hati, yang stereo. Dengan pilar yang juga setengah hidup. Seperti plembungan kurang angin. Kini ia merasakan tenaga sebatang pilar legam. Tubuh Sinto meregang, bergetar dan denyut2 itu terasa nikmat. Ahhhhh …. , akirnya Sinto terkulai meringkuk didada Rahwono dan akirnya tertidur pulas. Sinto bermimpi seolah berjalan diantara awan diiringi ribuan tok-érok kesayangannya.

Baru kali ini Rahwono merasakan seorang perempuan begitu bergairah kepadanya. Selama ini yang dihadapinya adalah perempuan2 yang ketakutan. Yang terpaksa melayaninya. Ah, Pipit kecil, sukakah kamu denganku, Raja penyamun ? Ia membatin. Dilihatnya Sinto yang meringkuk tertidur dengan senyum tersungging. Pipit kecil yang malang, mengapa kau blusukan dibelantara ini ? Rahwono mengusap tubuh mungil itu dan berkata dalam hati. Apa yang kau inginkan, ndhuk ? Katakan, ndhuk. Kubuatkan Taman Asoka dari taman kadewatan untukmu. Yg ada tok-éroknya, ya ndhuk. Pelan2 dibopongnya burung Pipit mungil itu pulang.

Sebuah pemandangan yang kontras. Si molek dan Sang Penyamun. Yang satu meninggalkan jejak2 berdarah, satunya tak pernah bersua dengan kekerasan. Yang satu belia, baru belasan tahun. Satunya sudah bangkotan, bahkan lebih tua dari ayahnya. Yang satu menebar aurora sangar, satunya membiaskan keindahan. Dan …., putik2 cintapun bersemi diantara kedua insan itu.

Sinto mendhem jero, wewadi penyimpangan sex Romo & Lesmono tidak dibuka kepada Rahwono. Ia hanya mengatakan tidak berbahagia dengan Romo dan minta pegat. Sinto minta bantuan Rahwono untuk menyampaikan talak-3. Permintaan2 Sinto dipenuhi. Yang pertama Kolo Marico diutus untuk menyampaikan kehendak Sinto untuk bercerai. Menyampaikan talak tiga. Kedua Sinto minta bantuan mbakyu Sarpokenoko untuk menemukan Lesmono dan mengembalikannya kepada kakaknya. Sinto dan Prabu Rahwono akan ke Manthili melaksanakan usulan Sinto tentang pangkalan militer dan bantuan keuangan.

Episode-13
Sarpokenoko Grumpung

Di Alas Dhandhoko Romo sedang kalang kabut, istrinya hilang. Pondok morat marit dan ada banyak sekali bekas2 lutung, kera, bedhès dan semacamnya. Romo tidak tahu bahwa nawolo yang ditinggalkan Sinto telah diambil lutung2 mbeler. Mungkin dimakan lutung2 trondholo itu atau binatang lain. Beberapa hari ia menjelajahi seluruh hutan mencari cari istrinya tanpa hasil. Romo me-nebak2, apakah Sinto diculik emban Mantoro ? Tidak, tidak ada jejak2 kaki orang disitu. Atau purik ? Romo berharap begitu, mungkin Sinto tidak tahan hidup miskin di hutan dan minggat pulang. Syukurlah jika begitu, Romo iklas dan bertekad akan menjem

putnya jika ia sudah mukti wibowo lagi. Tetapi ia kuatir istrinya tersesat. Terlintas dalam benak Romo, bagaimana jika diculik Gandarwo2, Wewe2, dan Banaspati bala tentara Bhatari Durgo alias Gèdhèng Permoni von Kasetran Gondomayit ? Wé, lhadalah … ! Romo mulai panik. Dengan segera ia matak aji, sedheku bertapa untuk kontak dengan Setro Gondomayit (karang semerbak bau mayat), papan segala makluk halus.

Dityo Kolo Marico misuh2 doncak dancuk. Masa Kolonel telik sandi disuruh menceraikan orang. Talak tiga, lagi. Itu urusan KUA, bukan urusan intelejen ! Byangané ! Namun, ia militer, harus patuh menjalankan perintah atasan, apapun perintah itu. Tradisi jurit, ia tidak boleh pulang sebelum tugas selesai. Dengan mudah Kolonel itu menemukan pondok Romo. Disana dilihatnya seorang pemuda tampan sedang samadi. Raut mukanya keruh dan siap meledak karena panik. Marico mbatin : wah, harus hati2. Kalau datang2 mak jedhul harus ngasih tahu bininya kasih talak 3, malah gué yang dijadikan sasaran. Ini pemuda digdoyo, ntar palé gué benthèt. Setelah ber-pikir2 Kolo Marico memutuskan merubah dirinya jadi kijang Kencono yang jinak agar bisa menunggui Romo dari dekat tanpa mengundang kecurigaan. Nanti kalau keadaan sudah aman, barulah akan disampaikan berita buruk itu. Tetapi Kolonel itu lupa sesudah malih rupa, tidak memakai parfum !

Romo yang sedang semadi mengendus bau Dénowo. Ada Kijang Kencono didepan matanya tetapi baunya kok Denowo ? Romo curiga, jangan2 kewan ini jelmaan prajurit Setro Gondomayit yang menculik Sinto. Dengan segera dikejarnya Kijang itu. Kolo Marico kaget dan lari nggenjring. Sampai ter-engah2 Romo tidak berhasil menangkap Kijang itu. Lama kelamaan ia menjadi gemas, dipanahnya kewan mencurigakan itu. Kena dan Dityo Kolo Marico meraung kesakitan. Raungan kematiannya begitu keras membahana sampai terdengar diseantero rimba.

Disisi lain dari hutan Sarpokenoko berhasil menemukan Lesmono sedang terpekur semedi memejamkan mata. Dengan bergegas paha Lesmono akan ditepuknya. Namun, belum sempat niatnya tercapai terdengar raungan kematian suaminya. Saking kagetnya, Sarpokenoko menepuk paha terlalu keras. Lesmono terbangun dari semedinya karena mendengar raungan Kolo Marico. Belum pulih dari kagetnya mendengar raungan, tiba2 didepannya ia melihat raseksi dan memukul pahanya dengan keras. Secara reflex Lesmono bereaksi menampar si raseksi. Sarpokenoko yang ditampar mukanya spontan membalas – plok ! Tanpa sempat berbicara keduanya tiba2 terlibat dalam pertarungan. Sarpokenoko konsentrasinya buyar kuwatir dengan keadaan suaminya. Karenanya dengan mudah Lesmono berhasil menjiwit hidung Sarpokenoko dan diplintirnya sampai grumpung. Karena mengkhawatirkan nasib Kolo Marico, Sarpokenoko gelisah dan melarikan diri sambil me-raung2 kesakitan. Ditengah jalan ia baru menyadari bahwa hidungnya grumpung. Sebagai wanita, ia lebih kawatir dengan hidungnya dari pada memikirkan suami dan tugasnya. Ia berbalik arah tidak menuju ke pondok Romo tetapi kembali ke DOM Jantoko supaya bisa mengobati hidung grumpungnya.

+ sik, sik, sik, ki Dhalang
- opo Jo ?
+ Lesmono itu laki2, kok njiwit hidung ?
- Artiné opo ?
+ Yang jiwitan itu hanya perempuan, to ?
- Lho, kok pinter kowé Jo …

Gambar Romo memanah Kijang Kencono

Episode-14
Dada yang Membara

Selendang Sinto yang seharusnya diberikan kepada Lesmono sebagai bukti bahwa ia utusan Sinto ketinggalan. Lesmono menemukan selendang itu jadi bingung. Pertama terdengar raungan kematian, tahu2 ada Rakseksi menyerang, dan sekarang ada slendang Sinto disini. Ada apa ? Jangan2 ada masalah di pondok Romo ? Dengan bergegas Lesmono menuju pondok Romo.

Lesmono akhirnya bertemu dengan Romo yang sedang kebingungan memandangi bangkai Kijang yang telah malih kembali keasalnya menjadi Diyu. Ke-dua2nya me-nebak2. Yang dicurigai pertama adalah emban Mantoro. Tetapi kemungkinan ini ditampiknya karena mereka tahu emban Mantoro tidak punya andhahan Dénowo. Mayat Yakso ini memakai ageman jurit tetapi tanpa identitas. Kolo Marico adalah tentara intelejen, yang selalu menyembunyikan identitasnya. Mereka menganalisa sampai pusing tetapi sama sekali tidak mendapatkan petunjuk. Sinto hilang lantas ada raksasa malih rupa jadi kijang dan mati sebagai tentara tanpa identitas. Kemudian ada raseksi menyerang Lesmono sambil membawa selendang Sinto. Kesimpulannya hanya satu : Sinto diculik ! Yang nyulik pasti suatu organisasi, kemungkinan dari negara lain. Siapa dan dari Negara mana ? Apa motivasinya ? Sama sekali tidak terlintas dibenak kedua satrio itu bahwa Sinto minggat minta pegat. Dengan adanya bukti2 ditangan, kemungkinan Sinto purikpun mereka tepis jauh2.

Tiba2 kakak beradik itu menyadari betapa mereka saling merindukan. Dengan penuh perasaan Romo membelai adik kinasih. Dikecupnya kening Lesmono, didekapnya kekasihnya seolah tak akan dilepaskannya. Seumur hidupnya. Dikecupnya bibir Lesmono dan nafaspun makin menderu ….. sensor … sensor … sensor … Lesmono tersenyum dan samar2 dekik dipipinya muncul. Ia kemudian merebahkan diri ….. sensor … sensor … sensor … Hari2 kemudian menjadi terasa manis bagi sepasang kekasih ini. Tiada lagi wajah mbesengut Sinto. Mereka muncul dalam jati diri mereka yang paling sejati. Tanpa perlu bersikap lamis.

Dihantam petaka beruntun, terjungkal sebagai calon Raja, putus kasih dengan Lesmono, kehilangan istri, mendengar berita bahwa ayahanda tercinta sudah meninggal membuat Romo makin dewasa. Romo kini bukanlah Romo yang dulu, yang hura2 dan poya2 sodom sana sodom sini. Romo sekarang adalah pria matang.

Romo marah kehilangan istrinya. Bukan karena sangat mencintai Sinto tetapi harga dirinya sebagai pria terinjak. Siapa berani mencuri Sinto dari sisinya ? Kemarahannya juga makin menguat terhadap emban Mantoro yang mendepaknya dari singgasana. Seandainya ia tidak terpental dari singgasananya ia tidak harus menanggung malu kehilangan istri. Adrenaline pemuda bermental baja ini mulai mendidih. Ia bersumpah akan mencari istrinya sampai keujung dunia. Siapapun pencurinya ia akan berhadapan dengannya. Romo menengadakan mukanya dan telunjuknya menuding langit. Ia berteriak lantang, … emban Mantoro ! Tunggulah titi wancimu ! Kemudian ia tengadah seolah menantang langit … yang menculik Sinto, tunggulah kematianmu !

Bumi gonjang ganjing, langit kethap2, … blah , … blah, …. blah, … Ong … ing … oooooooooong …

Romo dan Lesmono berjalan dan berjalan mengembara sambil memadu kasih. Mereka telah meninggalkan alas Dandoko dan berjalan menikmati indahnya hamparan didepan matanya. Dibalik penampilan pemuda bersahaja ini, bara didada makin membara. Sebenarnya ia tidak beda dengan Rahwono. Ke-dua2nya Predator, punya naluri untuk bertarung. Dua2nya sang penakluk. Bedanya, Rahwono Gladiator nglegeno – tiap orang bisa dengan mudah mengenali bahwa ia gladiator hanya dengan melihat fisiknya yang mirip penyamun. Romo adalah Gladiator elegan. Tampan, bersahaja, dan santun.

+ Ki, …. bukankah supoto Sharwono sudah selesai dengan wafatnya Prabu Dosoroto
- Apa maksudmu ?
+ Mestinya penyimpangan sexual kedua satrio itu sudah pupus, bukan ?
- Ya ?
+ Sesudah supoto, Lesmono tetap wadhat dan Romo sebelum menemukan Sinto tidak juga menikah. Sesudah ketemu, rujuk, lantas cerai, Romo tetap tidak menikah lagi. Artinya homosexualitasnya tidak sembuh, Ki
- Terus ?
+ Artinya, kedua satrio itu begitu bukan karena supoto ! Mereka memang dari sononya begitu. Romo Lesmono itu kisah cinta abadi, Ki.
- Kok pinter kowe, Jo
+ Masa Sinto bersama Romo pendek sekali. Katakan 3 tahun sebelum ditundung. Sesudah itu pisah 15 tahun lamanya. Rujuk hanya sebentar, mungkin 5 tahun. Jadi total hanya 8 tahun. Pertanyaan, dimana keagungan kisah cinta Romo-Sinto ?
- Embuh

Episode 15
Pitam di Manthili

Di dalem Kolomarican Sarpokenoko meradang. Diperintahkannya seluruh jajaran DOM Jantoko untuk mencari kedua satria dan mencari jenazah Komandan Kolo Marico. Bahkan dikerahkan juga sekutunya, pasukan Setro Gondo Mayit. Dipimpin oleh Dityo Kolo Gondobahu yang mengerahkan segala lelembut, Gandarwo, Wéwé, Wedhon, Lampor, Banaspati, Kuntilanak, Sundel Bolong, juga Sundel Kramtung. Juga si manis jembatan Ancol, Drakula, Frankestein, dll. Seluruh alas Dhandhoko disisir; jika ketemu orang diinterogasi, disiksa, ditempilingi supaya menunjukkan kedua Satrio itu. Sambil me-lolong2 kesakitan, Sarpokenoko meninggalkan Jantoko menyusul abangnya yang sudah di Manthili bersama Sinto.

Sepanjang jalan Sinto-Rahwono bak pengantin baru. Sinto makin merasa berbahagia, ia tidak saja bisa melepaskan diri dari hari2 menyakitkan di Dandoko tetapi ia menemukan seseorang yang diimpikan. Berkuasa, kaya raya, gagah perkasa dan mencintainya. Dan ngejreng.

Prabu Janoko nyaris pingsan ketika mengetahui putrinya datang bersama wajah sangar yang sudah dikenalnya : Raja penyamun. Anehnya, wajah Sinto tampak semringah dan Sang Rahwono berjalan gontai, seperti Singa kekenyangan. Betapa lega hati Prabu Janoko ketika diketahuinya bahwa Rahwono tidak bermaksud jahat. Setelah melepas rindu dengan orang tuanya, Sinto munjuk atur

“ Kanjeng romo, saya telah pegatan dengan Radèn Romowijoyo “ Sinto mendhem jero. Wewadi kehidupan bisex Romo disimpannya rapat2. “ Talak tiga sedang disampaikan Kolonel Kolo Marico. Diperjalanan saya ketemu dengan kanjeng Prabu Rahwono yang bersedia menjadi IMF menggantikan Ayudyo. Tadi sempat mampir ke kedutaan Ayudyo. Kami ditolak masuk tetapi Prabu Rahwono memaksa, prajurit itu dibanting sampai mecèdhèl. Duta besar dijewer sampai kupingnya kawir2. “
“ Wah, nanti kalau Ayudyo menyerang Manthili, bagaimana ? Parabu Janoko kuatir
“ Pak Dubes sudah di-wanti2 utang Manthili supaya ditagih ke Alengko Dirojo “
“ Wah, wah, wah … “ Prabu Janoko geleng2 kepala. Mana berani ?

Belum lepas dari kagetnya, Prabu Janoko dikejutkan raungan Sarpokenoko yang datang dan me-lolong2 hidungnya grumpung. “ Duh, duh aduh … Kakang Prabu hidung saya grumpung … “
“ Siapa berani menyakitumu, hah “ Rahwono naik pitam
“ … dipithes Lesmono … dan Kolo Marico dibunuh Romo …“
“ Kurang ajar ! “ Raung sang Raja dan ia bergegas hendak melabrak tetapi Prabu Janoko dengan sigap menahan Rahwono.
“ Nanti dulu, sarèh … sarèh … Kakang Prabu, biarkan para prajurit mencarinya dulu, lantas kita tanyai mereka. Bukankah sudah diperintahkan demikian ? “ Janoko memandang Sarpokenoko.
“ Betul … “
“ Sebagai Raja Gung Binatoro, tak layak Kakang Prabu Rahwono mengurusi kedua orang itu. Bukankah mereka derajadnya sudah bukan lagi Ningrat ? Mereka tak lebih dari kéré yang klèlèran dirimba raya. Jangan sampai kewibawaan jatuh, Kakang Prabu. Mereka bukan level Kakang Prabu. “ Mati2an Prabu Janoko mencoba menyelamatkan anak2 swargi (almarhum) Prabu Dhosoroto, temannya. Jika sampai Rahwono melabrak, kedua satria itu pasti menemuai ajalnya.

Dilantai, Sinto ndhéprok tertunduk. Hatinya nglangut dan tiba2 ia merasa sangat bersalah telah meninggalkan dharmanya sebagai sisihan. Ke-dua satrio itu tak ada sedikitpun punya niat buruk kepadanya. Mereka memenuhi kewajiban2nya dengan baik. Mungkin Romo membunuh Kolo Marico karena kaget dan karena dengan Lesmono mereka punya hubungan tali batin yang seperti telepati, Sarpokenokopun kena getahnya. Membayangkan kedua satrio itu di-uber2 tentara DOM Jantoko dan Kasetran Gondo Mayit, Sinto menjadi nelongso. Sambil menangis sesenggrukan dipeluknya kaki Prabu Rahwono yang sedang naik pitam.

“ Kanjeng Prabu, saya mohon jangan menempuh jalan kekerasan. Jika memang kangmas Romo tidak iklas melepaskan saya, ia pasti kembali kesini. Jika kesini lebih baik kita pegatan baik2. Kita bisa pakai Adnan Buyung atau Mulya Lubis untuk menghadapi gugatan mereka. Tidak ada masalah pembagian harta dan anak karena kami tidak punya apa2 “ Sinto menyeka air matanya. Ia sedih, pernikahannya berujung dengan kisruh. Melihat keadaan Sinto yang memelas kemarahan Rahwono padam.

Episode-16
Sinto Ngèngèr.

Sedang sibuk begitu, paseban digegerkan lagi dengan datangnya Kyai Banaspati, dengan rambutnya yang menyala mubal2. Langsung menghadap ke prabu Rahwono“ Gusti, kedua orang itu sudah tidak ada lagi di Dandoko. Apakah kita akan mencari sampai diluar Dandoko ? “
“ Tidak, bubarkan pasukan. Misi telah selesai. “ Dengan tegas Rahwono bertitah.
“ Sendiko, magito gito lumaksono …. “ Dan Banaspatipun menghilang dari pandangan.

Untuk sesaat suasana hening. Tiba2 Sinto ingat mbakyu Sarpokenoko. Segera ditubruknya kaki Sarpokenoko sembari sesenggrukan meminta maaf. Sarpokenoko meradang ;
“ Nih, lihat hidungku grumpung, piyé iki, hah ! “
“ Jangan kuatir mBakyu “ Janoko menukas “ Di RI banyak ahli bedah plastik, kita panggil mereka datang “

+ Sik, Ki Dalang
- Opo ?
+ Bukankah Sarpokenoko itu tidak tedhas tapak paluning pandhé sisaning gurindo ?
- Terus ?
+ Lha, alat2 kedokteran putung semua, dong.
- Terus ?
+ Dipermak pakai Ketok Mejig Blitar saja
- Yoh …
+ Di kenthèng, Ki
- Hè’ èh.

Lebih dari sebulan lamanya mereka menunggu tetapi Romo & Lesmono tidak menampakkan batang hidungnya. Manthili tidak mengetahui bahwa kedua satria itu mengira Sinto diculik dan mereka berjalan kearah yang salah, makin menjauhi Manthili. Semenjak kedatangan Rahwono, keadaan ekonomi Manthili membaik. Proyek2 yang ter-katung2 berjalan kembali. Berbeda dengan IMF RI yang rewel, Rahwono yang sedang wuyung lebih nyah nyoh. Proposal apapun yang diajukan selalu distempel dengan ‘Yoh”. Sinto sangat bangga telah berbuat bagi negaranya. Kini Sinto sudah gemebyar dengan mas picis rojobrono dan sutro dewonggo. Bukan seperti ketika di Dandoko, miskin.

Sinto adalah pewaris tunggal Manthili dan pernikahannya bermuatan politis. Sebenarnya homosexualitas Romo hanyalah dalih bagi Sinto untuk mengganti suami. Ia adalah wanita yang sangat sadar akan kekuasaan. Romo adalah suatu ketidak pastian, sedangkan Rahwono adalah sebuah jaminan. Manthili akan titi toto tentrem karto raharjo dalam perlindungan negara adidaya Alengko Dirojo. Seperti Cleopatra yang menyerahkan tubuhnya kepada Mark Anthony, Mesir mengalami masa2 toto titi tentrem dibawah pengawalan legiun Romawi. Seperti Cleopatra, Sinto tergerak untuk mempunyai anak dengan Rahwono untuk lebih memperkokoh posisinya. Sinto akhirnya ngèngèr ke Alengko Dirojo. Witing tresno jalaran digawé dalangé ngono, kisah ini menjadi kisah kasih Rahwono-Sinto dan Romo-Lesmono, bukan ‘keagungan’ kasih Romo-Sinto.

Dalam versi aslinya, Sinto bersama Rahwono selama 14 tahun ! Masa sih, maharaja yang begitu digdoyo tidak bisa ngeloni Sinto ? Versi Wayang Jowo juga menceritakan bahwa Sinto & Rahwono punya anak, dalam lakon Dhosowilutomo.

Karena Romo dan Lesmono tak kunjung ada kabar beritanya, prabu Janoko akhirnya menikahkan putranya dengan Prabu Rahwono. Sinto diboyong ke Alengko Dirojo. Ketika melintas selat Srilangka, Prabu Dosomuko napak gegono (terbang). Sinto dipondongnya. Selama terbang Sinto pengin main bungee jumping. Dosomuko memenuhi permintaannya, Sinto dilambungkan keatas dan dibiarkan jatuh me-layang2 kebawah. Sinto men-jerit2 ketakutan. Begitu mendekat ditanah, disambarnya tubuh Sinto. Sinto sangat suka dengan bungee jumping ini, minta lagi. Begitu ber-ulang2 mereka main bungee jumping. Pakaian Sinto menjadi modhal madhul tidak karu2an. Rambutnya mosak masik. Salah satu cengkir gadingnya malah mecuat keluar dari sarangnya.

Dari kejauhan tampak setitik noktah hitam yang makin lama makin membesar. Ternyata seekor burung Garuda yang besarnya sak hoh hah. Barangkali sebesar Hercules. Bukan Hercules Tanah Abang. Itu mah, keciiiiil. Ia adalah Kiai Jatayu, salah seorang kawan swargi Prabu Dhosoroto. Burung Raksasa mampu terbang dengan kecepatan supersonic sambil mematuk lawannya. Cakarnya yang besar luar biasa tajamnya untuk mencabik cabik mangsanya.

Èèèèèèng ing èèèèèèèèèèèèng ………

Sepasang matanya yang tajam mencereng memperhatikan Rahwono dan Sinto yang sedang me-layang2 diudara. “ Wé lha dalah “ Kiai Jatayu membatin “ Itu Rahwonorojo, Raja penyamun “ sang burung sak hoh hah mendekat dan kaget “ Lho, lho, lho, … itu Sinto, to ? Ini menantu kawanku, kenapa ia bersama dengan raja penyamun ? Kiai Jatayu me-nebak2

Episode-17
Jatayu Kamikaze

Sementara itu Sinto iseng, suaminya di ithik2 perutnya. Rahwono membalas, Sinto di ithik2 perutnya. Sinto me-ronta2 geli sambil men-jerit2 dan memukuli dada sang Raja. Terkadang dijambaknya rambut krembyah2 sang Raja. Rahwono balas iseng, dikecupmya cengkir gading yang keluar dari sarangnya. Mereka bergumul gumul.

Betapa kagetnya Kiai Jatayu melihat Sinto pakaiannya modhal madhul, men-jerit2, dan memukuli Rahwono. Darahnya naik ke-ubun2nya menyaksikan Rahwono ‘mimik’. “ Hey, hey, hey, king of the beast ! Tiba2 kiai Jatayu bisa membatin dalam bahasa Sunda. “ What the fuck are you doin ? “ Bulu2 dileher sang burung tiba2 meremang, matanya me-nyala2 dan dari hidungnya keluar asap. “ Who do you think you are ? Ini Kiai Jatayu, Jogoboyo Gegono, tak thothol (patuk) endhasmu modiar kowé. “ Sang burung ber-putar2 mendekat. Ia mencoba menyergap dari belakang. Cakar yang satu akan diarahkan ke leher Rahwono, cakar yang lain siap menangkap Sinto yang pasti terjatuh. Paruhnya siap nothol (mematuk) kepala Dosomuko yang ditelikung lehernya dengan cakarnya.

Jatayu toyoy ! Bagaimana ia mau menyergap dari belakang ? Namanya Dosomuko, artinya kepalanya sepuluh. Matanya berapa ? Duapuluh, koplo ! Bagaimana mungkin ia bisa mendekat tanpa ketahuan ?

Lha, rak tenan. Dosomuko bukan tidak tahu ada yang mengancam. Ia membatin, “ Ini ada burung klintar klinter. Burung kaliren, hèh ? Memangnya lu anggep apa, gue ? Lunch ? “ Dengan beringas Rahwono berkata dalam hati “ mau apa, kau ? “ Sembari tangannya mencengkeram pedang dipinggangnya. Seperti hiu membaui darah, Rahwono menjadi beringas. “ Lu jual, gue beli !“ Rahwono kemropok “ jadi ingkung, lu ! “ Sinto tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia tidak tahu bahwa ada makluk2 yang sedang pentheleng2an saling menantang tanpa kata2. Sedang ‘jual-beli’ nyawa.

Dengan kecepatan penuh Kia Jatayu menukik kearah Rahwono. Rahwono telah siap. Gladiator yang sudah lumuten dengan segala macam taktik perang membuat kejutan. Sinto dilambungkannya keatas, seolah sedang main bungee jumping. Tangannya yang bebas menghunus pedang. Kiai Jatayu kaget tidak menduga Sinto dilambungkan keatas. Posisi paruh dan cakar2nya jadi salah, konsentrasinya ambyar. Apalagi Sinto men-jerit2 ketakutan. Ia mengkhawatirkan Sinto dan pada detik yang sama harus mematuk Rahwono. Dengan ukuran badannya yang kelewat besar dan dalam kecepatan tinggi, sulit baginya untuk merubah posisi.

Peristiwanya hanya beberapa detik, dengan sigap Rahwono membalik badannya, dan bet !, ia menebang leher burung malang itu. Dengan pedang saktinya, sekali tebas leher Kiai Jatayu langsung kawir2. Begitu selesai Rahwono langsung menukik menangkap Sinto yang men-jerit2 masih mengira main Bungee Jumping. Sinto tidak sadar punggung suaminya gudras (berlumur) ludiro amblong kena cakar Kiai Jatayu.

Kiai Jatayu bagaikan menabrak angin. Tahu2 lehernya terpenggal dengan brutal dan ia kehilangan tenaganya karena nadinya terputus. Burung raksasa itupun terkulai me-layang2 diangkasa dan jatuh ndepani siti bantolo. Karena kesaktiannya, Kiai Jatayu tidak langsung mati. Ketika Romo melintas disitu, kiai Jatayu mengenali Romo. Dengan sekuat tenaga ia berupaya bicara tetapi karena lehernya nyaris putus, ucapannya tidak jelas“ Sinto, … Sinto, … wono rrrrrr, wono rrrrrrr, “ Kiai Jatayu tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Jatayu gugur. Kedua satria ini bertambah bingung dengan sepenggal kata Kiai Jatayu yang tidak jelas. Mereka me-nebak-2. Wono ? Wono adalah rimba. Rimba mana ? Amazon, Borneo, Alas Roban ? Wono mana ? Wonogiri, Wonosari, Wonokromo ? Wono R ? Apa ini ? Wonoro atau wanoro, barangkali ? Wanoro apa ? : munyuk, bedhès, lutung, siamang, kethèk, chimpanse, gorila, orang utan ? Apa hubungannya dengan kematian prajurit Dénowo tanpa identitas. Ada raseksi hidungnya grumpung ? Ada selendang Sinto ? Kedua pemuda itu makin bingung. Tetapi secercah harapan muncul, jika burung itu me-nyebut2 Sinto berarti Sinto masih hidup. Kedua sejoli itu kemudian meneruskan perjalanannya, berjalan, berjalan dan terus berjalan.

Di Alengko Sinto ditempatkan di Taman Asoka yang keindahannya melebihi taman kadewatan. Taman ini merupakan replika Rimba Dandoko, lengkap dengan binatang2 dan kembang2 kesayangannya. Sinto hidup mukti wibowo dengan dayang2 yang tak terhitung banyaknya. Salah satu emban tua menarik perhatiannya.

“ Mbok emban kowe siapa, wis sepuh begitu kok masih disini “
“ Saya mbok emban Kromoberdopo, gusti Dewi. Dulu saya yang momong Gusti Rahwono. “
“ mbok Kromo, mbok aku dicritani masa lalu dan asal usul Kanjeng prabu Rahwono “
“ Sendiko dhawuh, Gusti. Silahkan duduk yang nyaman, ceritanya agak panjang “
“ dulu kala, di pulau Srilangka ini banyak negara2 kecil, Gusti. Diantaranya Alengko dengan rajanya Prabu Somali. …… “

Bersambung ke episode 18 : Bilahi Birahi di Girijembangan.

Ramayana (Sri Lanka Version)
sumber: http://groups.yahoo.com/group/seni-wayang

Posted in Ramayana (Sri Lanka Version) | Tagged | Leave a comment

Parwo Alengko Purwo

III. Parwo Alengko Purwo

III. Parwo Alengko Purwo
18Bilahi karena Birahi
19Kebo ditanduk Gudel
20Rahwono yang Perkasa
21Sesaji Rojosuyo

Episode 18
Bilahi Birahi di Girijembangan

Syahdan, jaman dulu sekali di pulau Srilangka ada beberapa negara kecil2. Seringkali negara2 kecil tersebut saling berperang memperebutkan wilayah. Diantara negara2 tersebut ada negara kecil Alengko dengan Rajanya Prabu Somali. Putri sulung bernama Dewi Sukaesi telah menginjak remaja dan sudah saatnya menikah. Raja Danarjo dari kerajaan Lokapala yang juga di pulau Srilangka tertarik dengan Dewi Sukesi. Kehendak Sang Prabu dilambari motif politis. Ia ingin Alengko dimerger dengan Lokapala.

Dewi Sukesi yang hanya sedikit lebih ayu dari Omah atau Yati Pèsèk punya syarat, ia mau dinikahi asalkan diajari ilmu Sastro Jendro Yuningrat Pangruwating Diyu. Sebuah ilmu yang wingit & pelik. Untungnya Prabu Danarjo anak begawan Dr. Wisrowo yang profesor emeritus kesusastraan dan rektor dari Universitas Girijembangan. Segera dipersilahkannya Woro Sukesi untuk mengikuti kuliah Bopo wiku. Karena anak Raja, Sukesi mendapat keistimewaan kuliah khusus sendiri.

Sebenarnya nilai Sukesi pas2an, kebanyakan C, beberapa C+, dan ada yang C-. selain kuliah Sastro Jendro yang jadi kuliah pokok, Woro Sukesi juga diizinkan kuliah minor. Boleh Fisika Quantum, Kimia, Geografi, dll. Karena kuliah sudah masuk semester III, Sukesi diizinkan masuk ke perpustakaan pribadi Sang Resi. Semua naskah diperbolehkan dipelajari kecuali sebuah kitab yang diberi warna biru. Buku sakral ini bukan untuk perjaka & perawan. Sebagai mahasiswi yang patuh, Sukesi tidak pernah berupaya mempelajari buku tersebut.

Pada suatu malam yang kelam Sang Resi berkenan memberikan kuliah minor. Dititahkannya Sukesi mencari textbook diperpustakaan pribadinya, apa saja yang ingin dipelajarinya. Waktu itu hujan dan banyak angin. Suasananya kekes, mendung dan mulai gerimis. Dengan takut2, Woro Sukesi ke perpustakaan yang terletak jauh dari ruang kuliah pribadi. Ketika sampai diperpustakaan, Hyang Bayu – dewa angin – berkelebat dan pet dian perpustakaan mati. Diluar angin mendesis, gerimis makin deras. Ter-gesa2 Sukesi yang dasarnya penakut sekenanya mengambil sebuah buku. Kemudian ia ber-lari2 kecil kembali ke ruang kuliah pribadi. Takut kehujanan.

Wiku Wisrowo dengan telaten dan penuh kesabaran mengajari Sukesi yang IQnya pas2an. Diluar hujan dan hawa terasa adem. Didalam ruang belajar dian berkebat kebit kena angin. Terpaksa mereka duduk berdempetan agar bisa membaca kitab itu dengan lebih baik. Entah apa yang terjadi, kedua insan yang umurnya terpaut jauh tiba2 menjadi ber-debar2. Nafas menjadi sesak. Buku apa ini, wingit betul ? Embuh, kedua insan itu seolah tidak siuman meneruskan pelajaran dengan lebih nggethu.

Malam makin larut dan kedua insan itu makin asyik. Mereka merasakan sebagian badannya kruget2 abuh (bengkak) padahal tidak ada tawon kemliwat. Ketika sampai tahap ‘praktikum’, nafas makin ter-sengal2 ! Wé ladhalah …..

Sensor …. sensor …. sensor ….

Begitulah kedua insan itu terhanyut meneruskan ‘praktikum’ sampai posisi2 akrobatik. Sampai2 Bopo Resi jatuh krengkangan. Lha, wis kèwut, jé. ‘Praktikum’ dilakukan ber-ulang2 semalaman sampai keduanya kotos2 mandi keringat.

Sensor …. sensor …. sensor ….

Keesokan paginya, guru-murid itu teler kelelahan saling berpelukan dalam keadaan nglegeno (bugil). Betapa kagetnya dua insan itu. Apa yang telah terjadi semalaman ? Blaik, …. ternyata buku yang dipelajari tadi adalah KAMASUTRA atau Kamasaru ! Karena mempelajari Sastro Jendro Yuningrat Pangruwating Diyu, kedua insan itu menemui bilahi (petaka) jadi birahi. Wah, wis kebacut ! Bablaské sisan, pénak jé ! Gara2 Bilahi Birahi, kuliah Sukaesi tersendat karena buntang bunting terus, sampai anaknya enam. Bukannya mendapatkan izasah, malah anaknya pating jredhul.

Dalam Pedalangan, anak2 Sukaesi disebut Komosalah. Dalam versi ini bukan komosalah tetapi komokleru sebab kliru ambil buku saru ! Versi ini bukan versi Srilanka tetapi versi Jln. Paris – Parangtritis dari seorang kawan yang suka glanyongan. Versi Srilangka menyebutkan bahwa Rahwono adalah keturunan Resi Termasyur. Lupa namanya.

Episode-19
Kebo ditanduk gudel

Bukan alang kepalang marahnya Prabu Donopati ketika mengetahui bahwa calon bininya bunting karena dikeloni bapaknya sendiri. Dengan berang Sang Prabu melabrak ayahnya yang trondholo di Universitas Girijembangan. Jedher ! Pintu kantor rektor ditendangnya dengan sekuat tenaga.

“ Bopo wiku, sampéyan ini bagaimana, sih ? Katanya kuliah sastra kok malah muridnya dikeloni ? “
“ Sareh, ngger, silahkan duduk …. “
“ Sudah, nggak usah basa basi, … biar saya berdiri saja, … kok malah nyinau yang saru2 itu pripun, Bopo Resi ? “
“ Lha, aku sendiri samasekali tidak nggraito apa2. … aku kira sedang belajar anatomi bagian sarap2 sensitip … jebul malah kena bilahi … eh kleru … kena birahi “
“ mesthinya sampéyan ini mbok nyebut to, wong sudah kèwut (sepuh). Harusnya berdoa di sanggar pamujan di senjakala usia, menunggu kedatangan Sang Hyang Yomodipati. Kok malah … “
“ Umur itu dumunung dalam pikiran, ngger. Kalau kita berpikir masih muda maka kita akan serasa masih muda. Kalau kita masih merasa going strong, tidak ada yang bisa ngaru biru. Kulawik, anak Prabu, yang harus sering ke sanggar pamujan bukan yang kèwut2 tetapi justru yang masih muda2 … “
“ Bopo wiku, saya ini sedang marah. Saya kesini bukan untuk kuliah … cewek yang masih belasan tahun kok sampéyan keloni itu rak tidak etis to, kanjeng Resi ? Maksud saya, biar saya peram, kok malah sampéan brakoti dhéwé. “
“ aku terima salah anak Prabu. Tetapi ketauilah bahwa yang namanya cinta itu buta. Tidak memandang usia. Bisa saja aku yang sudah kèwut jatuh cinta dengan ABG .. “
“ sudah, sudah, sudah, … saya tidak butuh wejangan, terus anak2 haram itu piyé … ? “
“ hus ! Tidak ada yang namanya anak haram. Yang ada ortu haram jadah seperti ané. “
“ Mesthinya anak polah Bopo kepradah atau anak bertingkah bapak lintang pukang. Ini kok kulawik. Bopo polah anak kepradah – babe macem2, anak jadi heboh “
“ Ho’ oh, ya …. “
“ wis, wis, wis, …. tak tigas janggamu ! “

Dengan sepenuh tenaga ditikamkannya senjatanya ke Resi Wisrowo namun sampai berulangkali tetap tidak bisa melukai. Lama kelamaan Sang Prabu Donopati kelelahan sendiri. Donopati merasa sangat malu dengan perilaku ayahnya yang malah ngeloni calon menantunya. Tetapi ia tidak berdaya, wiku Wisrowo terlalu sakti, ia tidak bisa bahkan hanya untuk melukai ayahnya. Akhirnya Donopati putus asa dan ia minta ayahnya membunuhnya karena ia tidak tahan dirundung malu punya ayah seperti itu. Tentu saja Sang Begawan menolak membunuh putranya. Saking marahnya, Prabu Donopati mem-bentur2kan kepalanya ketembok sampai ber-darah2.

Begawan Wisrowo serba salah. Disatu sisi ia sangat mencintai bini mudanya dan ingin mengecap madunya hidup dengan kembang yang sedang mekar itu. Disisi lain ia adalah pendhito yang seharusnya malu bersikap seperti itu. Ia juga sedih melihat betapa anaknya yang dikasihinya hancur mentalnya. Akhirnya, pupus sudah hati Sang wiku. Ia iklas melepaskan kehidupan sorgawinya dengan bini mudanya. Ia iklas menebus kesalahannya dengan ajalnya. Dengan tenang dicopotnya rompi kebalnya, yang dibelinya di Toko Ramai Ngalioboro. Ia sekarang tidak lagi digdoyo. Kemudian Sang wiku membentak putranya

“ Bocah gembèng ! Begitu saja nangis kayak anak kecil. Itu bukan sikap Raja. Memalukan sekali ! Akupun malu punya anak seperti itu ! Anak gembus ! Ayo, gunakan senjatamu … bunuhlah aku … kalau bisa ! “

Ditantang seperti itu, kemarahan Donopati meledak lagi. Dengan sekuat tenaga ditusukkannya kerisnya ke dada ayahnya. Blesss, keris menancap telak didada sepuh wiku Wisrowo. Pabu Donopati terpekur memandang jenasah ayahnya. Ia tidak menduga kejadiannya akan seperti itu. Semula ia hanya berniat meledakkan kemarahan dan sama sekali tidak ada keinginan membunuh ayahnya. Tetapi semua berlangsung begitu cepat dan diluar dugaannya. Yang tersisa adalah getun …..

Episode-20
Rahwono yang Perkasa.

Dewi Woro Sukesi punya 6 anak dalam versi Srilangka tetapi saya lupa namanya yang dua, dan peranannya tidak penting. Anak yang paling sulung diberi nama Rahwono, kemudian Kumbokarno, Sarpokenoko dan Wibisono. Sejak meninggalnya suaminya, Woro Sukesi tidak pernah menikah lagi. Janda ini beserta anak2nya dirawat eyangnya, mbah Soma(li) dikraton Alengko dan dimomong oom Prahasto, adik Sukesi. Keempat putra-putri tersebut walau disebut komosalah dalam pedalangan hidup dalam limpahan kasih sayang dan mukti wibowo. Eyang mana sih, yang tidak suka dengan cucu2 yang lucu2 ? Juga dari oom Prahasto bahkan kakak tirinya Prabu Danarjo.

Ketika menanjak dewasa, sosok keempat anak muda tersebut mulai nampak. Gambarannya tidak terpaut banyak dengan pedalangan. Bedanya akan muncul nanti pada ujung cerita, Brubuh Alengko. Rahwono brangasan, pemarah, suka membentak bentak. Sikapnya jauh dari santun, urakan malah. Tidak bisa terinjak bayang2nya. Tidak mau diungkuli. Keras kepala, sulit diajak kompromi, galak, tidak suka dibantah, dan otoriter. Mentalnya mental juara.

Sejak kecil ia sudah menunjukkan sosoknya sebagai gladiator. Ia suka bertarung dan tidak suka kalah. Ia punya naluri membunuh, bersaing dan menaklukkan. Ia predator, lahir untuk memangsa. Ia sangat pemberani, sugih kendel bondho wani, nyaris tidak ada yang ditakutinya. Dewapun jika dilabraknya pasti lari ter-birit2. ‘Seperti macan’ tidak cukup untuk menggambarkan jati dirinya. Ia seperti Tyranosaurus-Rex yang buas. Kemauannya sangat keras dan ia sangat cerdas. Ia pelajar yang sangat gentur belajarnya, terutama bidang militer. Ia sangat berbakat sebagai senopati ing Alogo, panglima perang, atau Generalissimo. Segala macam akademi militer dimasukinya dan ia selalu lulus dengan predikat magna cumlaude.

Gaya hidupnya flamboyan. Ia tidak trimo ing pandum. Suka hura2, poya2, bujono ondrowino. Ia murah hati, nyah nyoh. Ia mencintai keluarganya, ia sangat sayang terhadap adik2nya terutama si bungsu Radèn Wibisono. Tetapi, terhadap musuhnya, ia tidak kenal ampun. Ia hormat terhadap mbah Soma dan oom Prahasto. Ia bukan play-boyo. Walau Raja ia hanya punya istri tunggal, Dewi Mandori (Tari ?) ia sangat memperhatikan jendral2nya. Ia disukai dan dicintai jendral2nya.

Ia Raja religius. Tidak jelas agamanya apa (Siva ?). Terkadang berpakaian kependetaan tetapi lebih sering menyandang ageman perang. Ia sangat menghormati dan patuh terhadap guru2nya.

Anak kedua, buto klentrang klentreng, Dityo Kumbokarno di kasatrian Pangleburgongso. Tubuhnya tambun luar biasa besar. Hobinya makan, angop, bobok, bangun, mangan manèh. Kerjaannya hanya klentrang klentreng sambil rengeng2 disepanjang Malioboro. Ia Yakso lumuh – pemalas dan sedikit terbelakang. Tetapi jika kurdo (ngamuk), gunungpun digasaknya. Raksasa lugu dan tampak dungu ini patuh dengan kakang masnya. Sosoknya akan muncul lebih jelas di episode Rahwono Koplo dan Brubuh Alengko.

Anak ketiga, Sarpokenoko sebagai orang kepercayaan kakandanya. Ia menjabat sebagai menko polkam. Ia genit, dandanannya menor dan suaminya banyak. Namun demikian, ia prajurit wanita yang tangguh. Ada versi lain mengatakan sebaliknya, ia cantik dan santun.

Anak bungsu adalah mas Gun(awan Wibisono), anak mami. Semua orang menyayangi si bungsu manja ini. Tingkahnya sangat santun. Mas Gun yang kutu buku sangat dicintai prabu Rahwono. Ia tidak punya kesaktian apapun karena pada dasarnya ia tidak menyukai kekerasan. Ia adalah administrator par excellence. Diplomat ulung dan negotiator tangguh. Ia punya strategic mind. Sosok dirinya akan tampak jelas di episode Wibisonogate.

Bersambung ke episode 21 : Sesaji Rojosuyo

Walau masih sangat belia, Rahwono memenuhi syarat sebagai Raja di Alengko menggantikan mbah Soma yang sudah kèwut. Oom Prahasto dengan telaten membimbing keponakannya. Rahwono juga keturunan swargi Resi Wisrowo yang mantan Raja Lokapala. Dengan demikian ia juga punya hak menjadi Raja di Lokapala. Namun kakak tirinya, prabu Donopati punya rencana lain. Ia mau putranya sendiri yang madheg Raja di Lokapala. Semula, tujuan politis Donopati meminang Sukesi adalah pinangan politis untuk membuat aliansi strategis Alengko-Lokapala. Rencana ini berantakan karena bilahi birahi, salah comot buku saru.

Rahwono mengutus oom Prahasto supaya tujuan awal aliansi 2 negara diteruskan dengan mengajukan dirinya sebagai Raja dikedua negara. Donopati menampik usulan ini. Ketika jalan negosiasi macet, jalan pedanglah yang dipakai. Terjadilah banjir darah perang antara kedua negara. Prabu Donopati kalah, terbunuh oleh adik tirinya yang muda belia. Semenjak Donopati praloyo, kedua negara digabung. Rahwono kemudian melakukan militerisasi dikedua negara. Alengko menjadi negara facist. Akademi2 militer didirikan. Empu2 pembuat senjata direkrut. Satu demi satu negara2 disekitar pulau Srilanga ditaklukkan. Akhirnya Rahwono berhasil mempersatukan seluruh Srilangka dan Alengko yang semula negara kecil telah menjadi superpower.

Rahwono dinobatkan sebagai Maharaj atau King of Kings dalam sebuah upacara sesaji Rojosuyo. Tarian Tayungan, the dance of victory, diadakan siang dan malam. Sejak itu, Alengko menjadi negara agresor dengan melakukan invasi2 militer ke India selatan yang berdekatan dengan pulau Srilangka. Alengko menjadi suatu emperium dengan jajahan2 dn koloni2nya disepanjang India selatan.

Seperti Temujin, yang kemudian bergelar Jengis Khan, menyatukan Mongolia dan kemudian mendirikan kekasiaran Mongol. Membentang dari China sampai ke Timur Tengah meluluhlantakkan kesultanan2 di Timur Tengah. Seperti kekaisaran Romawi yang membentang sampai ke Inggris Raya. Seperti Alexander yang Agung dari negara kecil Macedonia terentang dari kepulauan Yunani sampai ke Pakistan. Seperti Attila the Hun, Caesar, Charles sang penakluk, dan sejenisnya.

Rahwono mabuk kemenangan dan menjadi megalomania. Terlalu percaya diri, menjadi jumowo, adigang adigung adiguno. Empero Alengko menjadi luar biasa kaya raya karena menerima upeti dari negara2 jajahannya. Kekuatan militer Alengko menjadi mesin perang yang brutal dan ditakuti. Melibas negara2 kecil di India Selatan yang mayoritas wangsa non Arya.

Pada masa ini, Alengko mengalami jaman keemasan. Jajahannya banyak dan menjadi kaya raya. Rahwono di puja2 sebagai bapak bangsa yang menyatukan seluruh Srilangka. Kraton yang megah dan candi2 monumental didirikan pada masa ini. Infrastructur, jalan, irigasi, pelabuhan2, dll dibuat pada jaman keemasan ini.

Diatas langit ada langit mencit dan dibawah jurang ada jurang jero. Expansi Empero Alengko tertahan ketika mencoba menginvasi ke India utara yang dikuasai wangsa Arya. Di Utara Timur ia dihadang Resi Subali, wanoro sakti mondroguno. Rahwono gagal menginvasi Poncowati bahkan keok oleh Resi Subali. Oom Prahasto sampai nangis2 minta pengampunan agar Rahwono tidak dibunuh. Beruntung Rahwono tidak terbunuh malahan diangkat murid oleh Resi Subali.

Di ujung lain balatentara Empero Alengkodirojo kalah telak, ambyar dihancurkan oleh wangsa Arya dengan Rajanya Arjuno Sosrobahu von Maospati. Inilah titik balik sejarah Alengko. Alengko sempat jatuh dan beberapa sat menjadi jajahan Maospati. Kisah ini akan kita buka kembali di episode Rahwono Koplo.

Secara singkat, pasang surut Alengko, mengalami fase2 sbb :

Alengko negara kecil dengan Rajanya prabu Somali
Lokapala bedhah, menjadi bagian dari Alengko
Rahwono menyatukan Srilangka, Alengko menjadi sebuah emperium
Empero Alengko melabrak India Selatan
Jaman Keemasan Alengko
Alengko jatuh dan dijajah wangsa Arya, Prabu Arjuno Sosrobahu. Wibisono dijadikan raja boneka Maospati.
Arjuno Sosrobahu terbunuh ronin, Alengko lepas dari penjajahan tetapi Alengko kehilangan jajahan2nya yang dulu.
Alengko menjadi negara damai – Rahwono ketemu Sinto
Perebutan kekuasan antara Indrajid bin Dosomuko vs oom Wibisono. Alengko retak didalam.
Kasus Wibisonogate : pengkhianatan G30S, eh … Wibisono.
Brubuh Alengko – Alengko diluluh lantakkan pasukan Poncowati.
Perang Saudara (Civil War) di Alengko, Wibisono vs keturunan Rahwono.
Alengko Binangun. Oom Wibi membangun kembali Alengko yang porak poranda.

Sejak ketemu Sinto, kebuasan dan kebrutalan Rahwono turun jauh. Ia adalah mantan penyamun. Seperti Markus Anthonius yang ‘dilemahkan’ Cleopatra.

Ramayana (Sri Lanka Version)
sumber: http://groups.yahoo.com/group/seni-wayang

Posted in Ramayana (Sri Lanka Version) | Tagged | Leave a comment